Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Kopi dalam adegan ini bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol. Simbol dari usaha kecil manusia untuk mencari kebahagiaan di tengah kerumitan hidup. Banyak orang datang ke kafe bukan hanya untuk minum, tetapi untuk mencari ketenangan, berbagi cerita, atau bahkan menyembunyikan luka.
Namun, seperti yang tersirat dari adegan tersebut, kopi hanya bisa "mendekati" kebahagiaan dan bukan menggantikannya.
Ada luka yang tidak bisa sembuh dengan suasana nyaman. Ada masalah yang tidak selesai hanya dengan percakapan singkat. Dan ada hubungan yang tidak bisa dipertahankan meskipun masih ada rasa.
Perempuan itu mungkin sedang berada di persimpangan. Antara bertahan atau pergi. Antara memaafkan atau melepaskan. Dan laki-laki itu mungkin baru menyadari bahwa kehadirannya saja tidak cukup untuk membuat semuanya kembali seperti dulu.
Di sinilah makna kalimat tadi menjadi semakin terasa.
Kita sering mencoba "membeli" kebahagiaan dalam bentuk lain: kopi, hiburan, perjalanan, atau bahkan hubungan. Kita berharap hal-hal itu bisa mengisi kekosongan dalam hati. Padahal, kebahagiaan sejati datang dari sesuatu yang lebih dalam. Dia datang dari kejujuran, penerimaan, dan keberanian menghadapi kenyataan.

Gambar dari film itu seperti cermin kehidupan kita sendiri. Kadang kita duduk bersama seseorang, tetapi hati kita jauh. Kadang kita tersenyum, tetapi sebenarnya sedang menahan air mata. Kadang kita memesan kopi, berharap hangatnya bisa menenangkan, padahal yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berkata jujur.
Pada akhirnya, kita belajar satu hal penting:
Kopi bisa menemani kesepian,
tetapi tidak bisa menyembuhkan luka.
Kopi bisa mendekatkan suasana,
tetapi tidak selalu mendekatkan hati.