Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menulis Semakin Asyik di Era AI Bersama Pak Dedi Dwitagama di KBMN PGRI

3 Mei 2026   11:29 Diperbarui: 3 Mei 2026   12:48 167 9 5

Narsum kqbmn PGRI/dokpri
Narsum kqbmn PGRI/dokpri

Beberapa waktu lalu Omjay mengikuti kelas belajar menulis nusantara atau KBMN PGRI. Menulis semakin asyik dengan Hati di Era AI: Catatan Inspiratif dari Pak Dedi Dwitagama di KBMN PGRI Batch 34. Inilah kisah Omjay di kompasiana tercinta.

https://youtu.be/mkjnKGUsxSA?si=-M7JpR5Ya-pM55oO

Dunia menulis kini memasuki babak baru. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan. 

Dalam suasana hangat kegiatan KBMN PGRI Batch 34, narasumber inspiratif, Pak Dedi Dwitagama, membagikan wawasan berharga tentang bagaimana seharusnya kita menggunakan AI dalam menulis. 

Acara yang dipandu dengan santai namun bermakna oleh moderator Koko Sim ini menjadi ruang belajar yang membuka mata dan hati para peserta di gelombang 34.

Sejak awal, Pak Dedi menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi, melainkan menginspirasi peserta menjadi pribadi yang sukses dan mampu menulis dengan baik.  Ia bahkan menyebutkan konsep "3 in 1" yaitu ilmu, adab, dan sukses sebagai fondasi penting dalam perjalanan seorang penulis. 

AI Itu Apa, dan Sejak Kapan Ada?

Pak Dedi menjelaskan bahwa AI adalah "Artificial Intelligence" atau akal imitasi yaitu kemampuan mesin untuk meniru kecerdasan manusia.  

Beliau a kemudian mengajak peserta menengok sejarah AI, dimulai dari gagasan Alan Turing tahun 1950 hingga perkembangan pesat di era Big Data dan Deep Learning sekitar tahun 2010, hingga akhirnya meledak pada tahun 2022 dengan berbagai aplikasi canggih yang kita gunakan hari ini. 

Penjelasan ini membuat peserta sadar bahwa AI bukan sesuatu yang tiba-tiba hadir, melainkan hasil perjalanan panjang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penggunaannya pun harus bijak.

Rambu-Rambu Menggunakan AI untuk Menulis

Bagian paling penting dari materi Pak Dedi adalah "rambu-rambu" penggunaan AI dalam menulis. Ini menjadi semacam kompas moral bagi para penulis di era digital.

Yang diperbolehkan:AI boleh digunakan untuk membantu brainstorming ide, membuat outline, merangkum referensi, memperbaiki tata bahasa, hingga mengatasi kebuntuan menulis (writer's block). 

Namun, Pak Dedi mengingatkan dengan tegas bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti manusia.

Lalu hal yang tidak diperbolehkan:AI tidak boleh digunakan untuk menghasilkan seluruh tulisan secara instan lalu langsung di-copy-paste. 

Selain itu, AI juga tidak boleh menggantikan analisis, argumentasi, dan pemikiran orisinal penulis. Bahkan, kesimpulan yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi oleh manusia. 

Di sinilah letak pentingnya integritas seorang penulis. Menulis bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi menyampaikan gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan.

Sesi Diskusi: Pertanyaan Kritis Peserta

Diskusi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan pertanyaan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Salah satu pertanyaan datang dari Sim Chung Wei:

"Pak Dedi, bagaimana secara umum kita bisa melihat tulisan itu berasal dari AI, dan kalimat umum apa yang sering kali dipakai oleh AI agar kita tahu bahwa itu hasil dari AI tanpa kita melakukan cek ricek dari aplikasi?"

Menanggapi hal ini, Pak Dedi menjelaskan dengan lugas bahwa sebenarnya tidak ada cara yang 100% pasti untuk mendeteksi tulisan AI hanya dari membaca sekilas. Namun, ada beberapa ciri umum yang bisa menjadi indikator:

Pertama, tulisan AI biasanya terlalu rapi dan "sempurna". Struktur kalimatnya sangat sistematis, tetapi sering kali terasa datar dan kurang emosi.

Kedua, penggunaan kata-kata umum yang berulang seperti "pada dasarnya", "di era digital ini", "dapat disimpulkan bahwa", atau "seiring dengan perkembangan zaman". Kalimat seperti ini sering muncul karena AI dilatih dari pola bahasa yang umum.

Ketiga, minim pengalaman pribadi. Tulisan AI jarang memuat cerita nyata, refleksi mendalam, atau sudut pandang unik penulis.

Keempat, terkadang terlalu umum dan tidak spesifik. Seolah-olah benar, tetapi tidak menyentuh inti permasalahan secara mendalam.

Pak Dedi menegaskan bahwa kunci membedakannya adalah rasa. "Tulisan manusia punya jiwa, sedangkan AI hanya menyusun kata," kira-kira demikian pesan yang tersirat.

Pertanyaan kedua datang dari ST. Rahmawati:

"Di tengah kemudahan AI menghasilkan teks dengan cepat, bagaimana cara menjaga agar tulisan tetap memiliki keaslian dan ciri khas penulisnya?"

Pertanyaan ini dijawab dengan sangat mendalam oleh Pak Dedi.

Menurut beliau, menjaga keaslian tulisan di era AI bukan hal yang mustahil, justru menjadi tantangan yang harus disambut.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Tulis dari pengalaman pribadi
Tulisan yang berasal dari pengalaman nyata tidak akan bisa ditiru oleh AI. Cerita, emosi, dan sudut pandang personal adalah kekuatan utama seorang penulis.

2. Gunakan gaya bahasa sendiri
Setiap penulis memiliki "suara". Jangan takut berbeda. Justru keunikan itulah yang membuat tulisan kita dikenali.

3. Jadikan AI sebagai asisten, bukan penulis utama
Gunakan AI untuk membantu ide atau memperbaiki struktur, tetapi tetap tulis ulang dengan bahasa sendiri.

4. Perbanyak membaca dan latihan menulis
Semakin sering menulis, semakin kuat karakter tulisan kita.

5. Tanamkan nilai kejujuran
Menulis bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga integritas. Jangan tergoda jalan pintas.

Pak Dedi kembali menegaskan prinsip penting: orisinalitas adalah harga mati. Bahkan dalam slide-nya tertulis jelas: Ori > Kw. 

Tips Menulis di Era AI

Pak Dedi juga memberikan tips sederhana namun sangat mendalam:

Gunakan AI untuk mencari ide, bukan untuk menggantikan proses berpikir.
Tentukan fokus dan arah tulisan sejak awal agar tulisan memiliki tujuan yang jelas.
Susun kata dan kalimat dengan gaya sendiri.
Masukkan data dan pengalaman pribadi agar tulisan terasa hidup dan autentik. 

Menulis Itu Soal Adab

Hal menarik lainnya adalah penekanan pada adab. Pak Dedi tidak hanya bicara teknis menulis, tetapi juga etika. Menulis harus dilakukan dengan tanggung jawab, kejujuran, dan niat baik.

Dalam sesi yang interaktif, peserta bahkan diberi kesempatan bertanya kapan saja, dengan hadiah menarik bagi penanya terbaik.  Ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus kaku, tetapi bisa menyenangkan dan penuh apresiasi.

Moderator Koko Sim berhasil menjaga suasana tetap hidup, mengalir, dan penuh semangat. Diskusi terasa seperti dialog hangat, bukan sekadar ceramah satu arah.

Produktif di Era Digital

Pak Dedi juga menekankan pentingnya menjadi pribadi yang produktif. Dengan bantuan AI, seharusnya kita bisa lebih cepat menghasilkan karya, bukan malah menjadi malas berpikir.

AI adalah alat. Manusialah yang menentukan arah.

Jika digunakan dengan benar, AI bisa membantu kita menulis lebih banyak, lebih cepat, dan lebih baik. Namun jika disalahgunakan, AI justru bisa membuat kita kehilangan jati diri sebagai penulis.

Refleksi: Menulislah dengan Hati

Dari seluruh materi yang disampaikan, ada satu benang merah yang sangat kuat: menulislah dengan hati, bukan dengan mesin.

AI boleh membantu, tetapi rasa, pengalaman, dan kejujuran tetap harus datang dari diri kita sendiri.

Sebagai penulis, kita tidak hanya menyusun kata, tetapi juga menyampaikan makna. Dan makna itu tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Kegiatan ini ditutup dengan semangat praktik dan ajakan untuk terus berkarya. "Praktek kuuuy," begitu salah satu slide yang mengundang senyum peserta. 

Penutup

Belajar dari Pak Dedi Dwitagama, kita memahami bahwa menulis di era AI bukan tentang melawan teknologi, tetapi tentang mengendalikannya dengan bijak.

AI adalah sahabat, bukan tuan. Mari kita tetap menjadi penulis yang berpikir, merasakan, dan berkarya dengan hati. Semoga bermanfaat buat pembaca Kompasiana.

Salam blogger persahabatan.

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6