Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Lubang Maut di Depan Mata Kita, dan Ketika Kelalaian Mengundang Derita

4 Mei 2026   13:31 Diperbarui: 4 Mei 2026   17:36 302 1 2

Lubang itu bukan lubang biasa. Di depan Hotel Grand Caman, lubang tersebut dipenuhi air got berwarna hitam pekat dan berminyak. Warga sekitar menyebutkan, kondisi itu diperparah oleh aktivitas pedagang gorengan di dekat lokasi, yang membuang limbah minyak ke saluran tersebut. Akibatnya, permukaan air menjadi licin dan berbahaya, menjebak siapa saja yang lengah.

https://youtube.com/shorts/Z1nqdnkf3cI?si=Ur4y1D-Bq6HDDZ0Y

Ironisnya, lubang serupa juga ditemukan di dekat kawasan Argia. Bedanya, lubang ini dalam kondisi kering, dipenuhi lumpur yang mengeras. Namun, kering bukan berarti aman. Justru karena tidak terlihat mencolok, lubang ini menjadi jebakan yang tak kasat mata. 

Salah satu warga, Ibu M. Lestari, bahkan pernah mengalami kejadian serupa di depan apotek Argia. Untungnya, saat itu tidak sampai menimbulkan cedera serius seperti yang dialami Pak RW 10.

Dari kesaksian warga, masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah ada laporan kepada pihak kelurahan sejak lama. Bahkan, saat kejadian Pak RW 10 berlangsung, pihak kelurahan disebut telah dihubungi dan berjanji akan menindaklanjuti. Namun, hingga saat tulisan ini dibuat, belum terlihat adanya tindakan nyata di lapangan.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Kita bukan hanya berbicara tentang sebuah lubang di jalan, tetapi tentang kelalaian yang bisa berujung pada penderitaan manusia.

Jalan adalah fasilitas publik yang seharusnya aman bagi semua. Ketika ada kerusakan yang membahayakan, maka perbaikan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.

Sebagai seorang pendidik, Omjay sering mengingatkan bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari pendidikan karakter. Apa yang terjadi di lingkungan kita adalah cerminan dari sejauh mana kita peduli terhadap sesama. Jika sebuah lubang sudah diketahui berbahaya dan telah memakan korban, tetapi masih dibiarkan begitu saja, maka kita sedang menghadapi krisis kepedulian.

Kejadian ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah setempat. Jangan menunggu korban berikutnya baru bergerak. Jangan sampai lubang-lubang ini menjadi "jebakan maut" yang terus memakan korban tanpa solusi.

Lebih dari itu, kita juga perlu membangun kesadaran bersama. Warga yang mengetahui adanya potensi bahaya sebaiknya tidak hanya melapor, tetapi juga mengambil langkah darurat, seperti memberi tanda peringatan sementara. 

Sementara itu, para pedagang di sekitar lokasi juga perlu diedukasi agar tidak membuang limbah sembarangan yang dapat memperparah kondisi lingkungan. Kita harus sama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih dan terjaga kebersihannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4