Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini diberikan judul: Lubang Maut di Depan Mata Kita. Ketika Kelalaian Mengundang Derita. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat pembaca setia Kompasiana.
Pagi ini ibu RT 005, RW 10 Kompleks TNI AL Jatibening Indah Bekasi mengirimkan pesan di WA Pribadi. Isinya berita sedih.
https://youtube.com/shorts/xw6LV0WURX8?si=7kJKlegGJAbya0fY
Pak RW 010 kecelakaan dan masuk lubang maut di depan Hotel Grand Caman. Ada lubang maut di depan mata kita. Kehidupan seharusnya berjalan seperti biasa.

Aktivitas warga dimulai dengan rutinitas harian, menyapa tetangga, dan menapaki jalan yang sudah akrab dilalui setiap hari. Namun, siapa sangka, di balik jalan yang tampak biasa itu, tersembunyi ancaman nyata yang akhirnya memakan korban. Salah satunya Pak RW 010 Kompleks TNI AL Jatibening Indah Bekasi.

Kabar duka datang dari lingkungan warga sekitar kawasan Argia hingga depan Hotel Grand Caman. Seorang tokoh masyarakat, Pak RW 10, mengalami kecelakaan serius akibat terjatuh ke dalam sebuah lubang yang tidak tertutup dengan baik. Bukan sekadar jatuh biasa, kejadian ini berujung pada patah tulang yang kini harus beliau tanggung.

Lubang itu bukan lubang biasa. Di depan Hotel Grand Caman, lubang tersebut dipenuhi air got berwarna hitam pekat dan berminyak. Warga sekitar menyebutkan, kondisi itu diperparah oleh aktivitas pedagang gorengan di dekat lokasi, yang membuang limbah minyak ke saluran tersebut. Akibatnya, permukaan air menjadi licin dan berbahaya, menjebak siapa saja yang lengah.
https://youtube.com/shorts/Z1nqdnkf3cI?si=Ur4y1D-Bq6HDDZ0Y
Ironisnya, lubang serupa juga ditemukan di dekat kawasan Argia. Bedanya, lubang ini dalam kondisi kering, dipenuhi lumpur yang mengeras. Namun, kering bukan berarti aman. Justru karena tidak terlihat mencolok, lubang ini menjadi jebakan yang tak kasat mata.
Salah satu warga, Ibu M. Lestari, bahkan pernah mengalami kejadian serupa di depan apotek Argia. Untungnya, saat itu tidak sampai menimbulkan cedera serius seperti yang dialami Pak RW 10.
Dari kesaksian warga, masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah ada laporan kepada pihak kelurahan sejak lama. Bahkan, saat kejadian Pak RW 10 berlangsung, pihak kelurahan disebut telah dihubungi dan berjanji akan menindaklanjuti. Namun, hingga saat tulisan ini dibuat, belum terlihat adanya tindakan nyata di lapangan.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Kita bukan hanya berbicara tentang sebuah lubang di jalan, tetapi tentang kelalaian yang bisa berujung pada penderitaan manusia.
Jalan adalah fasilitas publik yang seharusnya aman bagi semua. Ketika ada kerusakan yang membahayakan, maka perbaikan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
Sebagai seorang pendidik, Omjay sering mengingatkan bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari pendidikan karakter. Apa yang terjadi di lingkungan kita adalah cerminan dari sejauh mana kita peduli terhadap sesama. Jika sebuah lubang sudah diketahui berbahaya dan telah memakan korban, tetapi masih dibiarkan begitu saja, maka kita sedang menghadapi krisis kepedulian.
Kejadian ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah setempat. Jangan menunggu korban berikutnya baru bergerak. Jangan sampai lubang-lubang ini menjadi "jebakan maut" yang terus memakan korban tanpa solusi.
Lebih dari itu, kita juga perlu membangun kesadaran bersama. Warga yang mengetahui adanya potensi bahaya sebaiknya tidak hanya melapor, tetapi juga mengambil langkah darurat, seperti memberi tanda peringatan sementara.
Sementara itu, para pedagang di sekitar lokasi juga perlu diedukasi agar tidak membuang limbah sembarangan yang dapat memperparah kondisi lingkungan. Kita harus sama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih dan terjaga kebersihannya.
Kasus Pak RW 10 adalah pengingat bahwa keselamatan di ruang publik bukan hal sepele. Satu lubang kecil bisa mengubah kehidupan seseorang dalam sekejap. Dari sehat menjadi harus berjuang dengan rasa sakit. Dari aktif melayani masyarakat menjadi terbaring untuk pemulihan.
Omjay membayangkan betapa beratnya yang dirasakan beliau saat ini. Tidak hanya menanggung rasa sakit fisik, tetapi juga beban mental karena harus berhenti sejenak dari aktivitas sosialnya. Padahal, sebagai seorang RW, beliau adalah garda terdepan dalam melayani warga.
Mari kita jadikan kejadian ini sebagai momentum untuk bergerak bersama. Pemerintah harus segera turun tangan memperbaiki infrastruktur yang rusak. Warga harus terus bersuara dan mengawal perbaikan tersebut. Dan kita semua harus belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Jangan sampai kita terbiasa dengan bahaya. Jangan sampai kita menganggap lubang di jalan sebagai hal biasa. Karena ketika kita mulai menganggapnya biasa, di situlah tragedi mulai menunggu.

Selain itu di jalan Berhala lingkungan RT 005, RW 10 Kompleks TNI AL Jatibening Indah juga ditemukan lubang maut dan menganga yang berbahaya. Lubang maut ini tidak bisa kita biarkan begitu saja. Semoga segera ditutup dan diperbaiki sebelum jatuh korban.
Semoga Pak RW 10 segera diberikan kesembuhan. Dan semoga kejadian ini membuka mata kita semua bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Aamiin.
Salam sehat dan salam literasi.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam Blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
