Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran. Sebuah Rangkuman dan Telaah Materi Prof. Dr. Totok Bintoro, Kepala BPS Labschool UNJ.
https://youtu.be/BrgrwUXh7Eo?si=loFTZk_JXTQ5aXJA
Materi yang disampaikan Prof. Dr. Totok Bintoro berjudul "Meneguhkan Peran Guru Labschool dalam Ekosistem Pembelajaran" menegaskan bahwa guru bukan lagi sekadar pengajar yang menyampaikan materi di depan kelas, melainkan menjadi pusat kehidupan sebuah ekosistem pembelajaran yang sehat, dinamis, dan transformatif.
Apa Itu Ekosistem Pembelajaran?
Prof. Totok memulai dengan menjelaskan konsep ekosistem. Dalam ilmu biologi, ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang saling memengaruhi demi menjaga keberlangsungan hidup. Konsep ini kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan.
Ekosistem pembelajaran adalah jejaring kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya yang saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik.
Dalam ekosistem yang sehat, semua unsur bergerak harmonis menuju tujuan yang sama, yaitu memanusiakan manusia secara manusiawi agar lahir manusia-manusia yang berkualitas dan berkarakter.

Guru Adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran
Pesan paling kuat dalam presentasi ini adalah bahwa guru merupakan jantung dari ekosistem pembelajaran.
Jika jantung berhenti berdetak, seluruh tubuh akan lumpuh. Demikian pula jika guru kehilangan semangat, kreativitas, dan komitmen, maka ekosistem pendidikan akan kehilangan energi kehidupannya.
Menurut Prof. Totok, peran guru telah berevolusi menjadi:
1. Aktivator Pembelajaran Mendalam
Guru membantu siswa memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal fakta. Guru mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata.
2. Fasilitator dan Adaptor Teknologi
Di era digital dan kecerdasan buatan (AI), guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang interaktif sekaligus membimbing siswa menjadi pembelajar mandiri.
3. Pembangun Karakter dan Budaya Kelas
Guru menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa tidak takut gagal dan berani mencoba hal-hal baru.
4. Kolaborator Dunia Nyata
Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata melalui kerja sama dengan praktisi, akademisi, dunia usaha, dan dunia industri.
Labschool Sebagai Lembaga Pendidikan Transformatif
Prof. Totok menegaskan bahwa Labschool bukan sekadar sekolah unggulan, melainkan lembaga pendidikan transformatif.
Pendidikan transformatif memiliki ciri-ciri:
Berpusat pada refleksi kritis
Mendorong perubahan pola pikir
Berbasis masalah nyata
Mengembangkan dialog rasional
Membentuk pribadi yang mandiri
Mengedepankan kolaborasi dan partisipasi aktif
Target pendidikan seperti ini bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal ujian, tetapi menghasilkan manusia yang:
Berpikir kritis
Adaptif terhadap perubahan9
Memiliki empati sosial⁹
Kreatif
Mampu memecahkan masalah
Peka terhadap tantangan global
Mampu melakukan refleksi diri
Karakter Guru Transformatif
Prof. Totok menggambarkan karakter guru masa depan yang dibutuhkan Labschool dan Indonesia.
Inspiratif
Guru mampu membangkitkan semangat dan harapan peserta didik.
Mengajar dengan Transformasi
Fokus guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi mengubah sikap, nilai, keyakinan, dan karakter siswa.
Inovatif
Terbuka terhadap ide baru, berani mencoba hal baru, dan menciptakan budaya inovasi.
Mentor
Membangun hubungan yang kuat dengan peserta didik dan rekan sejawat.
Membimbing Berpikir Kritis
Membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu menetapkan tujuan hidup dan melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Keluarga
Salah satu slide yang sangat menarik menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan sekolah.
Ekosistem pembentukan budi pekerti dimulai dari:
1. Keluarga sebagai pembentuk pertama.
2. Sekolah yang menyempurnakan melalui pendidikan dan keteladanan.
3. Masyarakat dan dunia kerja yang memberikan pengaruh lanjutan.
4. Budaya, ilmu pengetahuan, ideologi, politik, media, dan teknologi yang terus memengaruhi kehidupan anak.
Karena itu pendidikan karakter tidak boleh hanya dibebankan kepada guru.
Akar Karakter yang Harus Ditanamkan
Prof. Totok menggunakan ilustrasi pohon karakter.
Akar yang harus ditanamkan adalah:
Jika akar ini kuat, maka akan tumbuh batang, ranting, daun, bunga, dan buah yang baik.
Buahnya adalah manusia yang:
Ekosistem Pendidikan Labschool
Prof. Totok menggambarkan pendidikan sebagai sebuah sistem besar.