Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Ketika Dunia Hanya Persinggahan, Akhirat Menjadi Tujuan. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah) untuk kompasianq tercinta dengan bantuan kecerdasan buatan.
Pagi Jumat selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam hidup saya. Udara terasa lebih sejuk, langkah menuju masjid terasa lebih ringan, dan hati seperti mendapatkan panggilan untuk kembali merenungi tujuan hidup.
Di tengah kesibukan mengajar, menulis, menghadiri rapat, hingga memenuhi berbagai undangan sebagai narasumber, saya sering bertanya kepada diri sendiri, "Untuk apa semua kesibukan ini jika akhirnya saya lupa mempersiapkan bekal pulang kepada Allah?"
https://youtu.be/HMN_20e4WwA?si=ab5QXkQ2EVKiQOnV
Pertanyaan sederhana itu selalu mengingatkan saya bahwa kehidupan ini sesungguhnya hanyalah sebuah perjalanan singkat. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun, dan suatu saat nanti kita juga akan pergi tanpa membawa harta, jabatan, atau popularitas. Yang akan menemani hanyalah amal baik yang pernah kita lakukan.
Suatu pagi setelah membaca pesan inspirasi dari pak Umedi tentang hari Jumat, saya kembali merenungkan kalimat yang begitu dalam maknanya.
"Orang-orang sebelum kita menyiapkan waktu untuk urusan akhirat, dan sisa waktunya untuk urusan dunia. Sedangkan kita menyiapkan waktu untuk urusan dunia, dan sisa waktunya untuk urusan akhirat."
Kalimat itu terasa seperti cermin yang memantulkan keadaan diri saya sendiri. Betapa sering saya begitu sibuk mengejar berbagai target dunia. Menulis artikel, menyelesaikan buku, membalas pesan, mengajar siswa, menghadiri rapat, hingga mengurus berbagai kegiatan organisasi. Semua itu memang baik selama diniatkan sebagai ibadah. Namun saya menyadari bahwa kesibukan itu jangan sampai membuat hati lalai mengingat Allah.
Sebagai guru, saya sering melihat anak-anak begitu serius bermain permainan di telepon genggam. Mereka berusaha mengumpulkan poin, memenangkan pertandingan, dan memperoleh peringkat tertinggi. Ketika permainan selesai, semua pencapaian itu hanya tinggal kenangan.
Bukankah dunia juga demikian?
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Kita sibuk mengejar harta, jabatan, penghargaan, dan pujian manusia. Kita berlomba memiliki rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mewah, serta penghasilan yang lebih tinggi. Namun ketika ajal datang, semua itu tidak lagi memiliki nilai.
Saya teringat permainan monopoli yang sering dimainkan saat masih kecil. Selama permainan berlangsung, semua pemain berusaha membeli tanah, membangun hotel, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, bahkan merasa bangga ketika menjadi orang terkaya di papan permainan. Akan tetapi, ketika permainan selesai, semua uang itu kembali dimasukkan ke dalam kotaknya. Tidak ada satu lembar pun yang dapat dibawa pulang.
Begitulah kehidupan dunia.
Jabatan yang kita banggakan akan diberikan kepada orang lain. Rumah yang kita bangun akan diwariskan. Rekening yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Bahkan nama besar yang kita miliki perlahan akan dilupakan oleh generasi berikutnya.
Yang tetap hidup hanyalah amal saleh.
Sebagai seorang guru, saya merasa beruntung karena Allah memberikan kesempatan untuk menanam amal jariyah setiap hari. Setiap ilmu yang saya ajarkan kepada siswa, setiap tulisan yang menginspirasi pembaca, setiap buku yang memberikan manfaat, semoga semuanya menjadi tabungan pahala yang terus mengalir.
Saya pernah mengalami masa ketika kesehatan menurun. Saat dirawat di rumah sakit, saya merasakan betapa lemahnya manusia. Semua aktivitas berhenti. Jadwal mengajar berhenti. Undangan menjadi narasumber ditunda. Bahkan menulis pun terasa sulit. Di atas ranjang rumah sakit, saya baru benar-benar memahami bahwa manusia tidak memiliki kuasa apa pun selain atas izin Allah.
Saat itulah saya semakin menyadari pentingnya memperbanyak amal sebelum kesempatan itu hilang.
Hari Jumat menjadi momentum yang sangat istimewa. Rasulullah menganjurkan umatnya memperbanyak membaca shalawat pada hari yang penuh berkah ini. Shalawat bukan hanya ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi jalan untuk mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat.
Betapa indahnya jika setiap Jumat kita mampu mengurangi kesibukan dunia sejenak untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, menghadiri salat Jumat lebih awal, dan mendoakan kedua orang tua yang telah mendahului kita maupun yang masih diberikan umur panjang.
Saya percaya bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika hati kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Orang yang hatinya dipenuhi rasa syukur akan selalu menemukan alasan untuk tersenyum, meskipun hidupnya sederhana.
Sebaliknya, orang yang hanya mengejar dunia tidak akan pernah merasa puas. Setelah memiliki satu, ia ingin dua. Setelah memiliki dua, ia ingin sepuluh. Hingga akhirnya usia habis sebelum sempat menikmati hasil jerih payahnya.
Allah telah mengingatkan dalam Surah Ar-Rahman ayat 26 bahwa semua yang ada di bumi akan binasa. Ayat ini bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan, melainkan agar kita mampu menempatkan dunia pada posisi yang semestinya, yaitu sebagai sarana beribadah, bukan tujuan akhir.
Karena itulah, saya selalu berusaha mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Menulis bukan sekadar menghasilkan artikel, tetapi menjadi jalan berbagi ilmu. Mengajar bukan sekadar memenuhi jam kerja, tetapi menjadi ladang pahala. Bekerja bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga bentuk ibadah kepada Allah.
Semoga setiap langkah yang kita lakukan bernilai ibadah. Semoga setiap ilmu yang kita bagikan menjadi cahaya bagi orang lain. Semoga setiap tulisan yang lahir dari hati mampu mengetuk hati pembacanya untuk semakin dekat kepada Allah.
Mari kita jadikan hari Jumat sebagai momentum memperbaiki diri. Perbanyak shalawat, jauhi maksiat, perbanyak sedekah, serta luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya. Jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan kehidupan yang sementara hingga melupakan kehidupan yang kekal.
Karena pada akhirnya, dunia hanyalah tempat singgah. Akhiratlah kampung halaman yang sesungguhnya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai memanfaatkan waktu, memperbanyak amal saleh, dan memperoleh syafaat Rasulullah SAW pada hari akhir nanti.
Barakallah fiikum. Tetap semangat menebar manfaat, karena hidup yang paling indah adalah hidup yang dipersembahkan untuk beribadah kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Menuliskah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi
