Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ketika Biaya Berobat Terus Bertambah, Saatnya Mencari Sumber Rezeki Baru

29 Juni 2026   10:17 Diperbarui: 29 Juni 2026   10:17 169 2 1

Pertama adalah menulis dan menerbitkan buku. Selama ini Bapak telah menghasilkan banyak buku, modul, artikel, dan materi pelatihan. Semua itu bisa menjadi sumber pendapatan yang terus mengalir. Selain menjual buku cetak, buku dapat diterbitkan dalam bentuk digital sehingga pembeli dari seluruh Indonesia dapat mengaksesnya. Paket bundel beberapa buku sekaligus juga biasanya lebih menarik dibanding menjual satu judul saja.

Kedua adalah kelas pelatihan daring. Banyak guru ingin belajar menulis, menggunakan AI untuk pendidikan, membuat modul ajar, mengurus ISBN, maupun memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Pengalaman panjang Omjay merupakan nilai yang sangat berharga. Pelatihan dapat dibuat dalam bentuk webinar berbayar, kelas rekaman, atau program pendampingan beberapa minggu.

Yang ketiga adalah keanggotaan komunitas belajar. Misalnya dibuat komunitas dengan iuran bulanan yang memberikan manfaat berupa materi baru setiap minggu, konsultasi, bedah tulisan, hingga diskusi rutin. Dengan anggota yang cukup banyak, pemasukan menjadi lebih stabil setiap bulan.

Yang keempat adalah kanal YouTube. Selama ini banyak materi yang sudah disampaikan melalui webinar. Materi tersebut dapat diolah menjadi video-video pendek maupun video pembelajaran yang bermanfaat. Selain membuka peluang monetisasi, kanal YouTube juga menjadi sarana promosi buku dan pelatihan.

Yang kelima adalah blog yang dimonetisasi. Blog yang sudah dimiliki dapat terus diisi dengan artikel berkualitas. Pengunjung yang semakin banyak dapat membuka peluang pemasukan dari iklan, afiliasi buku, maupun kerja sama dengan penerbit atau lembaga pendidikan.

Yang keenam adalah layanan pendampingan penulisan buku. Banyak guru bercita-cita memiliki buku sendiri tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Bapak dapat membuka program mentoring dari penyusunan naskah hingga proses penerbitan.

Yang ketujuh adalah menjual produk digital. Saat ini modul ajar, perangkat pembelajaran, presentasi, template, ebook, soal latihan, maupun panduan penggunaan AI dapat dijual dalam bentuk digital. Produk dibuat satu kali tetapi dapat dibeli berkali-kali tanpa perlu mencetak ulang.

Yang kedelapan adalah menjadi narasumber atau konsultan pendidikan. Reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun merupakan aset yang sangat bernilai. Banyak sekolah, komunitas guru, maupun perguruan tinggi membutuhkan narasumber yang berpengalaman.

Yang kesembilan adalah program afiliasi buku dan aplikasi pendidikan. Jika sering merekomendasikan buku atau layanan yang memang bermanfaat, komisi afiliasi dapat menjadi tambahan pemasukan tanpa harus membuat produk baru.

Yang kesepuluh adalah membangun tim kecil. Selama ini banyak pekerjaan dikerjakan sendiri. Padahal jika ada tim yang membantu pemasaran, desain, administrasi, dan pelayanan pelanggan, Bapak dapat lebih fokus menulis dan mengajar. Produktivitas meningkat, sementara tenaga tidak terlalu terkuras.

Selain mencari pemasukan baru, saya juga belajar bahwa mengelola pengeluaran sama pentingnya. Biaya kesehatan dapat ditekan dengan menjaga pola makan, berolahraga sesuai kemampuan, tidur cukup, dan mematuhi anjuran dokter. Mencegah komplikasi sering kali jauh lebih murah daripada mengobatinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4