Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Pilih Menerbitkan Buku Sendiri Atau Menerbitkan Buku Bersama Penerbit?

30 Juni 2026   08:20 Diperbarui: 30 Juni 2026   22:26 124 3 2

https://youtu.be/vol7UTx_l3Q?si=SNZ_6hbxABi7naHz

Kisah Omjay kali ini tentang Menerbitkan Buku Sendiri atau Bersama Penerbit? Sebuah Pilihan yang Mengubah Masa Depan Penulis. Sebuah pertanyaan seorang kawan yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) untuk kompasiana tercinta.

"Omjay, lebih enak menerbitkan buku sendiri atau melalui penerbit?"

Kisah Omjay menerbitkan buku/dokpri
Kisah Omjay menerbitkan buku/dokpri

Pertanyaan itu sering sekali saya terima, baik saat mengisi webinar, pelatihan menulis, maupun ketika berdiskusi dengan para guru yang sedang menyelesaikan naskah pertamanya. Setiap kali mendengar pertanyaan tersebut, saya selalu tersenyum. Sebab, saya pernah berada di posisi yang sama. Dulu saya juga bingung menentukan pilihan. Apakah lebih baik menerbitkan sendiri atau mempercayakan naskah kepada penerbit?

https://youtube.com/shorts/GixGn8HMRsk?si=-J_ItmVEvow5fTQF

Pengalaman mengajarkan bahwa tidak ada jawaban yang mutlak benar. Semua bergantung pada tujuan yang ingin dicapai oleh seorang penulis. Saya kemudian teringat perjalanan panjang saya menulis di blog sejak bertahun-tahun lalu. Dari tulisan sederhana yang saya unggah setiap hari, perlahan lahir buku demi buku yang mempertemukan saya dengan banyak sahabat di seluruh Indonesia.

Saya menyadari bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dijilid rapi. Buku adalah jejak perjalanan hidup. Buku adalah warisan ilmu. Karena itulah saya selalu mengatakan kepada peserta pelatihan menulis, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Ketika pertama kali menerbitkan buku melalui penerbit, saya merasakan begitu banyak kemudahan. Saya tidak perlu memikirkan pengurusan ISBN, tata letak isi buku, desain sampul, hingga proses pencetakan. Semua dikerjakan oleh tim profesional. Saya tinggal fokus menyelesaikan naskah sebaik mungkin.

Bagi penulis pemula, cara ini sangat membantu. Mereka dapat belajar memahami proses penerbitan tanpa harus direpotkan oleh urusan teknis. Selain itu, nama penerbit yang sudah dikenal sering kali meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap buku yang diterbitkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga belajar bahwa menerbitkan melalui penerbit memiliki tantangan tersendiri. Penulis harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan penerbit. Royalti biasanya sudah ditentukan, desain buku mengikuti kebijakan penerbit, bahkan waktu terbit pun harus menyesuaikan antrean produksi. Tidak jarang seorang penulis harus menunggu berbulan-bulan hingga bukunya benar-benar hadir di tangan pembaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3