Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Pilih Menerbitkan Buku Sendiri Atau Menerbitkan Buku Bersama Penerbit?

30 Juni 2026   08:20 Diperbarui: 30 Juni 2026   22:26 125 3 2

Di sisi lain, saya mulai mengenal dunia self-publishing atau menerbitkan buku secara mandiri. Dunia ini memberikan kebebasan yang luar biasa. Penulis dapat menentukan sendiri desain sampul, harga jual, jumlah cetakan, bahkan strategi pemasaran. Keuntungan yang diperoleh dari setiap buku juga biasanya lebih besar dibandingkan jika diterbitkan melalui penerbit konvensional.

Tentu saja kebebasan itu datang bersama tanggung jawab yang tidak sedikit. Penulis harus mencari editor, desainer sampul, layout artist, percetakan, hingga memasarkan bukunya sendiri. Jika tidak memiliki jaringan yang kuat, buku yang bagus pun bisa saja hanya tersimpan di gudang.

Pengalaman itulah yang membuat saya memahami bahwa kedua pilihan tersebut memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Tidak ada yang sepenuhnya lebih baik. Yang paling penting adalah menyesuaikan pilihan dengan tujuan.

Saya kemudian melihat perjalanan saya sendiri. Selama bertahun-tahun menjadi guru, blogger, dan narasumber pelatihan menulis, saya diberi kesempatan membangun jaringan yang sangat luas. Saya memiliki blog, media sosial, komunitas guru, webinar nasional, hingga kelompok belajar menulis yang tersebar di berbagai daerah. Jaringan inilah yang menjadi kekuatan utama ketika memasarkan buku.

Karena itu, jika ada yang bertanya kepada saya sekarang, saya biasanya memberikan jawaban yang sedikit berbeda. Saya tidak lagi memilih salah satu. Saya justru menyarankan memanfaatkan keduanya secara bijaksana.

Buku-buku akademik, buku referensi, modul pembelajaran, atau buku yang menyasar pasar nasional sangat baik diterbitkan melalui penerbit profesional. Dengan demikian, distribusinya lebih luas dan kualitas produksinya terjaga. Sementara itu, buku-buku inspirasi, kumpulan artikel, kisah perjalanan hidup, atau materi pelatihan dapat diterbitkan secara mandiri agar prosesnya lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh penulis lebih besar.

Saya percaya bahwa seorang penulis tidak boleh bergantung hanya pada satu jalan. Dunia penerbitan terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kini seseorang bahkan dapat memasarkan bukunya melalui media sosial, marketplace, webinar, dan komunitas tanpa harus memiliki toko buku sendiri.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, peluang seorang penulis justru semakin terbuka lebar. AI dapat membantu menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, bahkan memberikan ide-ide baru. Namun, AI tidak akan pernah mampu menggantikan pengalaman hidup, ketulusan, dan nilai-nilai yang lahir dari hati seorang penulis.

Saya bermimpi suatu hari nanti semakin banyak guru di Indonesia tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis yang produktif. Bahkan saya membayangkan lahir sebuah penerbit yang benar-benar dikelola oleh guru untuk guru. Di sana, karya-karya para pendidik dapat diterbitkan dengan biaya terjangkau, kualitas baik, dan distribusi yang luas. Dengan demikian, ilmu yang selama ini hanya tersimpan di ruang kelas dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui buku.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pertanyaan "lebih enak menerbitkan sendiri atau melalui penerbit?" bukanlah pertanyaan yang paling penting. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Apakah kita sudah mulai menulis?"

Sebab, buku yang paling hebat sekalipun tidak akan pernah lahir jika naskahnya tidak pernah selesai ditulis. Sebaliknya, naskah sederhana yang diselesaikan dengan penuh kesungguhan dapat mengubah kehidupan banyak orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3