Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Satupena dan Kepemimpinan Denny JA

10 Juli 2026   10:35 Diperbarui: 11 Juli 2026   05:55 298 10 3

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

Kisah omjay kali ini tentang satupena dan kepemimpinan Denny JA. Jangan lupa mampir ke Blog https://wijayalabs.com untuk melihat profil omjay kompasiana.

Mengapa Omjay Bahagia Bergabung di SATUPENA: Ketika Rumah Penulis Bukan Lagi Gedung, Melainkan Percakapan. Sebuah artikel  yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay -- Guru Blogger Indonesia) untuk kompasiana tercinta.

https://youtu.be/zSZiCbtQOoQ?si=QjFdKPToYnWwqazk

Tulisan Denny JA yang berjudul Era AI Mengubah Organisasi Penulis saya baca dengan penuh perhatian sejak paragraf pertama hingga kalimat terakhir. Rasanya seperti bercermin. 

Saya omjay melihat perjalanan SATUPENA, tetapi sekaligus melihat perjalanan saya sendiri sebagai seorang guru yang sejak puluhan tahun lalu jatuh cinta kepada dunia menulis. Tiada hari tanpa menulis.

Kalimat yang paling membekas di hati saya adalah, "Rumah para penulis bukanlah sebuah gedung. Rumah mereka adalah percakapan yang tak pernah berhenti."

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

Saya tersenyum ketika membacanya. Sebab, selama bertahun-tahun saya juga percaya bahwa seorang penulis tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Ia hidup karena berdialog. Ia tumbuh karena berbagi. Ia menemukan dirinya ketika tulisannya dibaca orang lain.

Sebagai seorang guru, saya sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun. Sebagai blogger, saya sudah menulis ribuan artikel di berbagai media. Sebagai pendiri Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), saya setiap minggu bertemu para guru dari Sabang sampai Merauke melalui ruang digital. Semua pengalaman itu membuat saya memahami satu hal: organisasi yang baik bukanlah organisasi yang sibuk mengurus administrasi, tetapi organisasi yang mampu membuat anggotanya terus belajar.

Ketika saya bergabung dengan SATUPENA, saya menemukan suasana itu. Saya menemukan rumah. Rumah yang tidak bertanya berasal dari daerah mana. Rumah yang tidak melihat usia. Rumah yang tidak mempersoalkan apakah seseorang sudah menerbitkan puluhan buku atau baru belajar menulis. Yang dihargai adalah semangat untuk terus berkarya.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, banyak orang khawatir AI akan menggantikan penulis. Saya justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. AI memang mampu membantu menyusun kalimat, merangkum informasi, bahkan membuat draf tulisan. Namun AI tidak pernah mampu menggantikan pengalaman hidup seseorang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3