Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Air mata itu muncul karena saya belum selesai berbagi.
Saya masih ingin mengajar. Saya masih ingin menulis. Saya masih ingin melihat senyum anak-anak ketika berhasil memahami pelajaran. Saya masih ingin menyaksikan guru-guru Indonesia semakin percaya diri menulis kisah inspiratifnya.
Di saat tubuh melemah, saya justru merasakan betapa besar cinta keluarga. Mereka tidak pernah mengeluh menemani proses pengobatan. Mereka menyembunyikan rasa lelah di balik senyuman agar saya tetap kuat. Setiap doa yang mereka panjatkan menjadi energi yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
Saya juga merasakan kasih sayang para sahabat. Pesan-pesan sederhana yang masuk ke telepon genggam sering kali membuat mata saya basah.
"Omjay cepat sembuh."
"Kami masih menunggu tulisan Om."
"Indonesia masih membutuhkan guru seperti Om."
Kalimat-kalimat pendek itu menjadi obat yang bekerja jauh lebih cepat daripada yang saya bayangkan.
Di tengah masa pemulihan, saya membuka kembali laptop yang sempat lama terdiam. Jemari saya masih kaku. Kepala kadang masih terasa berat. Namun ketika satu demi satu huruf mulai muncul di layar, saya merasa sedang menemukan kembali diri saya yang sempat hilang.
Saya kembali menulis. Ternyata benar. Menulis bukan sekadar menyusun kata. Menulis adalah menyusun harapan.
Setiap paragraf yang lahir membawa semangat baru. Setiap cerita yang selesai ditulis membuat saya merasa hidup kembali. Saya tidak sedang melawan penyakit dengan kemarahan. Saya melawannya dengan rasa syukur.