Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

1 Tulisan 1 Suara 1 Perubahan

18 Juli 2026   17:56 Diperbarui: 19 Juli 2026   08:54 164 6 4

Kisah omjay kali ini tentang 1 Tulisan, 1 Suara, dan 1 Perubahan. Sebuah kisah: Air Mata yang Mengajarkan Omjay Arti Kehidupan untuk pembaca kompasiana tercinta.

https://youtube.com/shorts/WyeeUZ3IBS4?si=2c2xoBUTKkIHjVDd

Ada satu peristiwa yang mengubah cara saya memandang hidup. Peristiwa itu tidak terjadi di ruang kelas, bukan pula ketika saya menerima penghargaan sebagai guru atau penulis. Peristiwa itu hadir ketika tubuh yang selama puluhan tahun saya andalkan tiba-tiba berkata, "Sudah cukup, sekarang dengarkan aku."

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya terbiasa berlari mengejar waktu. Pagi mengajar di sekolah, siang membimbing guru, sore menulis artikel, malam mengisi webinar atau menjawab pertanyaan para sahabat di berbagai grup. Saya merasa waktu adalah sahabat yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Saya lupa bahwa tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat.

Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan cara yang begitu halus sekaligus sangat menyakitkan.

Diabetes datang tanpa diundang. Tekanan darah meninggi. Vertigo membuat dunia terasa berputar. Lalu muncul gejala stroke yang membuat saya benar-benar ketakutan. Saat tangan terasa sulit digerakkan dan tubuh kehilangan keseimbangannya, saya baru menyadari betapa rapuhnya manusia.

Di ranjang rumah sakit, suara alat medis terdengar bergantian. Bau obat memenuhi ruangan. Saya memandang langit-langit kamar dengan mata yang berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bertanya kepada diri sendiri.

"Apakah perjalanan saya akan berakhir di sini?"

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada murid yang menyapa. Tidak ada panggung seminar. Yang ada hanyalah keheningan, doa, dan air mata yang jatuh perlahan tanpa mampu saya bendung.

Air mata itu bukan karena saya takut mati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5