Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Sebelum Ajal Tiba Jangan Menunggu Sempurna Untuk Berbuat Baik

29 Juli 2026   09:52 Diperbarui: 29 Juli 2026   16:22 90 3 4

buku dahsyatnya sakaratul maut/dokpri
buku dahsyatnya sakaratul maut/dokpri

Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik. Inilah kisah Omjay di kompasiana tercinta. Sebiah kisah nyata yang dituliskan oleh: Omjay (Wijaya Kusumah) dengan blog pribadi di Blog https://wijayalabs.com/about.

Pagi hari itu, seperti biasa, saya membuka telepon genggam. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang sahabat (Pak Umedi) langsung menarik perhatian saya. Isinya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Orang hebat itu adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum ia meninggal dunia."

Saya terdiam beberapa saat. Kalimat itu mengajak saya merenung. Bukankah pada akhirnya semua manusia akan meninggalkan dunia? Namun, ternyata yang dimaksud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun jasad telah tiada.


Saya teringat perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun. Tidak ada harta melimpah yang saya miliki. Namun, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, berbagi ilmu kepada sesama guru, dan menyemangati siapa pun yang ingin belajar. 

Dari sanalah saya memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan megah atau tabungan yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat dan hati yang pernah menguatkan orang lain.

Pesan itu kemudian melanjutkan, "Orang yang bersedekah sampai kaya, bukan kaya baru bersedekah." Kalimat ini menampar saya dengan lembut. Betapa sering kita menunda berbagi karena merasa belum cukup. 

Padahal, sedekah tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Justru sedekah mengajarkan kita bahwa keberkahan sering kali datang kepada mereka yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang penghasilannya sangat sederhana. Namun, setiap kali ada teman yang kesulitan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3