Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Belajar Ilmu, Belajar Tenang, Dan Belajar Rendah Hati

1 September 2026   17:11 Diperbarui: 2 September 2026   08:09 261 9 3

omjay guru blogger indonesia/dokpri
omjay guru blogger indonesia/dokpri

BELAJAR ILMU, BELAJAR TENANG, DAN BELAJAR RENDAH HATI

Selasa, 1 September 2026 omjay mendapatkan pesan bagus dari pak Umedi di aplikasi whatsapp.

Pagi itu saya kembali diingatkan bahwa mencari ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut mengubah sikap dan perilaku kita. 

Ada orang yang semakin banyak ilmunya justru semakin mudah merendahkan orang lain. Namun ada pula orang yang semakin berilmu semakin tenang, semakin santun, dan semakin sadar bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari luasnya ilmu Allah. Bagi saya, inilah hakikat belajar yang sering kali terlupakan.

Dalam perjalanan saya sebagai guru, saya merasakan bahwa belajar ternyata memiliki tahapan yang sangat menarik. Pada tahap pertama, ketika seseorang baru mendapatkan sedikit ilmu, ia bisa merasa paling tahu. Sedikit membaca buku, langsung ingin menggurui. Baru mengenal teknologi, sudah merasa paling hebat. Baru memahami satu teori, merasa semua orang harus mengikuti pendapatnya. Saya pun pernah berada dalam fase seperti itu. Ketika masih muda, semangat belajar memang besar, tetapi kadang semangat itu belum disertai kebijaksanaan.

Memasuki tahap kedua, seseorang mulai memahami bahwa ilmu ternyata jauh lebih luas daripada yang selama ini ia bayangkan. Dari sinilah kerendahan hati mulai tumbuh. Kita mulai berani mengatakan, "Saya belum tahu." Kalimat sederhana tersebut sebenarnya menunjukkan kedewasaan dalam belajar. Tidak ada seorang pun yang mengetahui segala sesuatu. Bahkan seorang guru pun tetap harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru yang berhenti belajar pada hakikatnya sedang perlahan meninggalkan murid-muridnya dalam dunia yang terus berubah.

Kemudian ada tahap ketiga yang menurut saya paling indah. Pada tahap ini, semakin banyak ilmu yang dipelajari justru membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya bukan apa-apa dibandingkan dengan keluasan ilmu Allah. Kita seperti melihat lautan yang sangat luas setelah selama ini hanya bermain di tepian. Semakin jauh kita berlayar, semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui. Kesadaran seperti inilah yang membuat ilmu melahirkan ketawadukan, bukan kesombongan.

Saya juga belajar bahwa manusia yang berakal bukanlah orang yang merasa dirinya paling benar. Orang yang berakal adalah mereka yang mau menerima nasihat dan bahkan bersedia memintanya. Nasihat tidak selalu datang dari orang yang lebih tua. Kadang seorang guru mendapatkan nasihat dari muridnya. Kadang orang tua belajar dari anaknya. Bahkan seseorang yang baru kita kenal dapat memberikan satu kalimat yang mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.

Sebagai guru Informatika, saya semakin merasakan pentingnya terus belajar. Dunia teknologi bergerak begitu cepat. Hari ini kita mengajarkan sesuatu, besok mungkin sudah muncul teknologi baru. Kehadiran kecerdasan artifisial, coding, dan berbagai teknologi digital membuat guru tidak boleh merasa sudah selesai belajar. Justru guru harus semakin rajin membaca, mencoba, bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman.

Ilmu juga harus dihiasi dengan ketenangan dan martabat. Jangan sampai ilmu yang kita miliki membuat kita gemar berdebat, mudah marah, atau senang mempermalukan orang lain. Ilmu seharusnya membuat hati lebih teduh dan perkataan lebih terjaga. Sebab tujuan belajar bukan sekadar agar kita terlihat pintar, tetapi agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan keberadaan kita memberi manfaat bagi sesama.

Saya teringat kebiasaan saya menulis setiap hari. Menulis bagi saya adalah salah satu cara untuk terus belajar. Ketika menulis, saya dipaksa membaca, berpikir, mengingat pengalaman, kemudian menyusun kembali gagasan agar dapat dipahami orang lain. Dari menulis saya belajar bahwa semakin banyak yang saya ketahui, semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak yang belum saya ketahui.

Karena itu, jangan pernah merasa terlambat untuk belajar. Belajarlah sebelum menjadi pemimpin, sebelum kesibukan membuat kita lupa membuka buku, sebelum jabatan membuat kita merasa paling tahu, dan sebelum kesombongan menutup pintu nasihat. Belajarlah dengan sabar. Belajarlah dengan tenang. Belajarlah dengan hati terbuka.

Bagi saya, ilmu yang paling indah bukan ilmu yang membuat kita berdiri lebih tinggi daripada orang lain, melainkan ilmu yang membuat kita semakin rendah hati untuk membantu orang lain berdiri.

Mari raih ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi jangan lupa menghiasi ilmu itu dengan kesabaran, ketenangan, akhlak, dan kerendahan hati. Semoga setiap langkah kita dalam mencari ilmu menjadi jalan menuju keberkahan dan semakin mendekatkan hati kepada Allah.

Tetap semangat belajar, tetap rendah hati, dan teruslah berbagi. Barakallah fiikum.


Ilmu sosbud, Inspirasi Pagi, Motivasi Hidup 2026, Pendidikan, Rendah Hati, Kisah Omjay

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2