Mahasiswa akhir jurusan Digital Forensik, pejuang research yang kegiatannya menelusuri jurnal dan menulis untuk Thesis.
Meningkatnya kasus pelanggaran hukum yang melibatkan peraturan terkait UU ITE dan transasksi Elektronik menjadi tantangan hukum dan teknis. Tantangan hukum dan teknis dalam proses penegakan hukum adalah proses penyelidikan, yaitu pembuktian alat bukti dari barang bukti elektronik khususnya video. Pelanggaran peraturan yang melibatkan bukti elektronik video menjadi tantangan dalam investigasi, untuk menentukan apakah video tersebut telah dimanipulasi atau tidak.
Berdasarkan data putusan Mahkamah agung pelanggaran yang berkaitan dengan UU ITE mencapai 1312 data dengan keyword “UU ITE” (putusan.mahkamahagung.go.id) , selain itu berdasarkan data statistik puslabfor patroli siber pelanggaran penipuan online merupakan pelanggaran paling tinggi (patrolisiber.id)
Ini tentu menjadi perhatian dalam rangka proses penegakan hukum di indonesia. Tingginya pelanggaran yang berkaitan dengan tindakan hukum mebuat tantangan dalam penyelidikan dalam rangka mengumpulkan bukti.
Berdasarkan undang undang KUHP dari 5 alat bukti yang sah adalah : 1. Keterangan Saksi. 2. Keterangan Ahli. 3.Surat. 4. Petunjuk dan, 5. Keterangan terdakwa. Hakim dalam memutus perkara minimal mempunyai dua alat bukti yang sah misalnya pendapat ahli, Tentu BAP hasil pemeriksaan dari ahli menjadi sangat penting.
Video menjadi salah satu alat bukti elektronik yang penting dalam era yang serba digital ini, misalnya secara prosedur hukum melanggar undang-undang yang melibatkan barang bukti atau alat bukti video. Tercatat dilaporan patroli siber kasus pencemaran nama baik dan video porno yang dapat melibatkan bukti video menjadi pelanggaran tertinggi, berdasarkan urgensi tersebut maka pembuktian atau pemeriksaan video menjadi sangat penting.
Namun, upaya dalam mendeteksi video manipulasi (Tyagi & Yadav, 2023) menghadapi tantangan secara teknis tantangan teknis termasuk adalah berbagai macam teknik manipulasi yang terus berkembang termasuk AI/teknik manipulasi lainnya dalam konteks(Yallamandhala & Godwin, 2022) (Khalsa Gurpreet Kourand Ahuja, 2025)menambah, merubah atau menghapus frame maupun objek dalam video (El-Shafai et al., 2024)
selain itu terdapat tantangan terkait proses pengujian dan deteksi yaitu kebutuhan dataset sampel dan pendekatan deteksi manipulasi melalui metode deep learning.
(Deo Siddhiand Mehta, 2023)
Telah dikembangkan salah satu parameter penting dalam hirarki proses deteksi manipulasi adalah tersedianya dataset (Panchal & Shah, 2020) untuk pengujian model yang akan dikembangkan. Model yang dikembangkan berbasis deep learning salah satunya adalah architecture Resnet50 yang telah terbukti akurat dalam mendeteksi manipulasi.(Harika Palivela et al., 2023).
Namun generalisasi tools masih menjadi tantangan atau alat universal untuk mendeteksi manipulasi, selain itu walupun perkembangan alat sangat tinggi namun masih terdapat tantangan terkait dalam video forensik (Sandhya & Kashyap, 2024) (Mohiuddin et al., 2023)(H. Kaur & Jindal, 2020)