JepretPotret
JepretPotret Menjepret Memotret

IF..Then...Else....END IF

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

[Video] Puisi "Melawan Hoax Menjaga Hati"

1 Juli 2018   01:12 Diperbarui: 10 September 2018   15:33 698 0 0

Kita saat ini hidup di dua alam yang berbeda, yakni dunia nyata dan dunia maya. Menurut Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin, ada perbedaan mendasar dalam perihal cara berkomunikasi. Perbedaan ini malah akan berpotensi menimbulkan pudarnya rasa sisi kemanusiaan. 

"Ketika di dunia nyata, kita berkomunikasi dengan tatap muka dan dapat melihat ekspresi lawan bicara. Kita akan lebih menjaga rasa lawan bicara, dengan memperhatikan sikap dan bahasa yang digunakan. Sementara di dunia maya, kita hanya membaca teks tanpa memikirkan ekspresi lawan bicara. Maka akan ada potensi untuk berbohong dan berani menggunakan ujaran kebencian," ujar Lukman Hakim Saifuddin.  

Hal ini diungkapkan saat Menag menyapa Kompasianer dalam acara Kompasiana Perspektif bertemakan "Melawan Hoax, Menjaga Hati" di D'Consulate Lounge Menteng Jakarta Pusat, pada 31 Mei 2018 lalu. 

Fenomena ujaran kebencian melalui merebaknya berita palsu / hoaks (hoax), timbul dari penyalahgunaan atas pemanfaatan media sosial dan teknologi informasi. Maka diperlukan tindakan yang bijak atas pemakaian media sosial, dengan dapat memilah (sorting) informasi secara cermat. 

Namun banyak isu yang berkembang bahkan mengatasnamakan agama, tiada henti terus beredar seiring masifnya kabar hoaks. Banyak sisi-sisi kemanusiaan semakin pudar dari dalam diri yang telah kehilangan rasa. Padahal dalam setiap keyakinan agama yang dianut, pada dasarnya mempromosikan apa yang namanya kedamaian. 

Islam berasal dari kata Salam yang bermakna Damai. Dalam Nasrani diajarkan untuk menyebarkan Kasih Sayang. Sementara dalam ajaran Hindu dan Buddha, memiliki Dharma yang berarti Kebenaran. 

Maka dalam usaha menahan hawa nafsu untuk meminimalisir potensi penyebaran hoaks, dibutuhkan rasa toleransi tinggi dari dalam hati. Ini yang akan menjadi pijakan utama, agar kita dapat terus bertegur sapa dan berdialog dengan sesama sambil menjaga rasa sisi kemanusiaan. 

Dalam kesempatan tersebut, Lukman Hakim Saifuddin tak hanya sekedar menyapa. Namun juga melarikkan ayat-ayat puisi yang mengandung spirit "Melawan Hoax Menjaga Hati".


Yuk, Damai di Hati Damai di Bumi!