Adila AinunFarhanah
Adila AinunFarhanah Mahasiswa

Someone who love books and cat

Selanjutnya

Tutup

Video

Resensi Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

20 Mei 2026   22:02 Diperbarui: 20 Mei 2026   22:02 102 2 0

Poster Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Sumber: www.teater.co
Poster Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Sumber: www.teater.co

Sutradara: Kuntz AgusPenulis: Evelyn AfniliaProduser: Gope T. SamtaniProduksi: Rapi Films, Screenplay Films, Legacy Pictures, Vortera StudiosPemain: Amanda Rawles, Eva Celia, Nayla Purnama, Bucek, Indian AkbarTayang perdana: 4 September 2025 (Bioskop Indonesia)Platform: Bioskop & Netflix

Sinopsis

Film ini berkisah tentang Alin (Amanda Rawles), seorang mahasiswi kedokteran yang beasiswanya terancam dicabut sehingga ia terpaksa pulang ke kampung halamannya. Kepulangannya justru memperlihatkan kondisi keluarga yang semakin berantakan. Sang ayah jarang berada di rumah dan meninggalkan banyak masalah ekonomi, sementara ibu dan kedua anak perempuannya harus memikul beban rumah tangga sendirian.

Di tengah situasi tersebut, Alin menemukan buku harian milik ibunya yang berisi impian-impian masa muda yang tidak pernah tercapai setelah menikah. Dari situlah muncul pertanyaan besar dalam dirinya: andai ibu tidak menikah dengan ayah, apakah hidupnya akan lebih bahagia? Pertanyaan itu perlahan membuat Alin melihat ulang arti keluarga, pengorbanan, dan hubungan yang sedang ia jalani bersama Irfan.

Resensi

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah mencoba mengangkat realita tentang beban perempuan dalam keluarga dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih menghadirkan drama yang berlebihan, film ini lebih banyak menampilkan penderitaan lewat detail-detail kecil di rumah tangga yang terasa realistis.

Salah satu adegan yang paling membekas muncul pada menit 0:45--1:05 ketika ibu harus menadah air hujan sendirian akibat atap rumah yang bocor, sementara sang ayah baru bangun tidur dan langsung meminta dibuatkan kopi. Adegan sederhana ini langsung memperlihatkan ketimpangan peran dalam keluarga tanpa perlu banyak dialog. Kesan serupa juga muncul pada menit 13:51--14:51 ketika ibu memanjat atap rumah seorang diri di tengah hujan deras untuk memasang terpal. Adegan tersebut menjadi simbol bagaimana seluruh beban rumah tangga seolah dipikul sendiri oleh sosok ibu.

Penulisan dialog film ini juga cukup kuat dalam menyampaikan rasa kecewa para tokohnya. Misalnya pada dialog, "Ayah kan jarang ada di rumah, kerjaannya cuma makan tidur mandi terus pergi lagi, lebih sering debt collector dateng ke rumah." Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana ketidakhadiran ayah bukan lagi hal yang mengejutkan, melainkan sudah menjadi rutinitas yang melelahkan bagi keluarga.

Konflik emosional semakin terasa ketika terungkap bahwa ibu selama ini harus mengumpulkan uang receh demi membayar listrik dan melunasi utang ayah. Puncaknya terjadi pada dialog, "Sebagai satu-satunya cowok di rumah ini harusnya ayah jagain kita, tapi selama ini malah cuma ibu yang jagain." Dialog ini menjadi inti dari keseluruhan film: kritik terhadap sosok kepala keluarga yang gagal menjalankan tanggung jawabnya.

Selain ceritanya, kekuatan terbesar film ini ada pada detail visualnya. Rumah sempit dengan tembok kusam, atap bocor, perabotan lama, hingga kostum sederhana para tokohnya berhasil membangun suasana kemiskinan yang terasa alami dan tidak dibuat-buat. Penonton dapat langsung percaya dengan kehidupan yang dialami keluarga tersebut karena semuanya terlihat dekat dengan realita masyarakat sehari-hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2