Kebaikan tentang aku beritahu kepada oranglain, keburukan ku bisikkan ke telinga ku, pertanda hidup kita manusia yang ingin maju. Salam Maflindo Butar Butar

Visi pembangunan Kabupaten Tambrauw menempatkan konservasi sebagai fondasi. Pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penyediaan infrastruktur dirancang untuk berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ruang hidup. Dalam kerangka ini, alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai sistem penyangga kehidupan yang harus dijaga.
Gunung Pasir Kebar memperlihatkan betapa pentingnya prinsip kehati-hatian tersebut. Struktur pasir yang rapuh sangat rentan terhadap intervensi manusia. Aktivitas sederhana seperti lalu lintas kendaraan, pembukaan jalur, atau pembangunan fisik tanpa perhitungan dapat mengubah bentuk dan fungsi kawasan secara permanen. Sekali rusak, lanskap semacam ini tidak mudah dipulihkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, dokumentasi visual dan cerita perjalanan mulai mengenalkan Gunung Pasir Kebar ke publik yang lebih luas. Seiring dengan meningkatnya perhatian, muncul pula wacana pengembangan pariwisata. Hal ini wajar, mengingat pariwisata kerap dipandang sebagai penggerak ekonomi daerah. Namun, dalam konteks visi Tambrauw, perhatian tersebut perlu direspons dengan perencanaan yang cermat, bukan dengan percepatan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Pembangunan, menurut visi kabupaten konservasi, bukan diukur dari seberapa cepat perubahan terjadi, melainkan dari seberapa tepat arah yang dipilih. Gunung Pasir Kebar tidak harus segera dikemas sebagai destinasi wisata besar untuk memperoleh nilai. Justru keunikan dan keterjagaannya merupakan nilai utama yang mesti dilindungi.
Jika pariwisata dijadikan salah satu jalur pemanfaatan, pendekatannya harus berbasis keberlanjutan. Bukan pariwisata massal yang mengandalkan jumlah kunjungan, melainkan pariwisata berbasis kualitas pengalaman, edukasi lingkungan, dan pembatasan aktivitas. Model ini lebih selaras dengan visi Tambrauw yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama. Gunung Pasir Kebar bukan ruang kosong, melainkan bagian dari wilayah kehidupan masyarakat yang telah lama berinteraksi dengan alamnya. Pengetahuan lokal tentang karakter tanah, perubahan cuaca, dan dinamika lanskap merupakan modal penting dalam pengelolaan kawasan. Tanpa pelibatan nyata masyarakat, kebijakan konservasi berisiko menjadi konsep administratif yang jauh dari praktik.
Visi Tambrauw juga menekankan kesejahteraan jangka panjang. Dalam kerangka ini, pembatasan tidak dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan sebagai strategi perlindungan. Mengatur akses, membatasi aktivitas tertentu, dan menahan intervensi fisik adalah cara menjaga nilai kawasan agar manfaatnya tidak habis dalam satu generasi.
Tantangan terbesar terletak pada konsistensi kebijakan. Ketika tekanan ekonomi dan politik meningkat, godaan untuk mengendurkan prinsip konservasi akan selalu ada. Gunung Pasir Kebar berada pada titik rawan tersebut. Di sinilah visi daerah diuji, bukan hanya dalam dokumen perencanaan, tetapi dalam keputusan-keputusan konkret di lapangan.
Pada akhirnya, Gunung Pasir Kebar adalah cermin arah pembangunan Tambrauw. Ia mencerminkan pilihan untuk melangkah dengan pertimbangan matang, menetapkan batas, dan menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kesejahteraan manusia. Di tengah kecenderungan pembangunan yang serba cepat, Tambrauw menunjukkan bahwa menjaga dan melambat dapat menjadi bentuk kemajuan yang bertanggung jawab.