Kebaikan tentang aku beritahu kepada oranglain, keburukan ku bisikkan ke telinga ku, pertanda hidup kita manusia yang ingin maju. Salam Maflindo Butar Butar

Satu Tungku Tiga Batu berangkat dari realitas sehari-hari masyarakat Papua. Tungku untuk memasak hanya dapat berdiri kokoh bila ditopang oleh tiga batu yang seimbang. Jika salah satu batu goyah, tungku akan roboh dan api padam. Prinsip sederhana ini kemudian dimaknai sebagai hubungan antarumat beragama, antarkelompok sosial, dan antarindividu dalam masyarakat yang majemuk. Keberagaman bukan ancaman, melainkan syarat agar kehidupan berjalan stabil.
Dalam praktik sosial, falsafah ini diterjemahkan ke dalam kehidupan bersama yang nyata. Di Fakfak dan wilayah Papua lainnya, perbedaan keyakinan tidak memutus relasi kekerabatan. Satu keluarga bisa menaungi lebih dari satu agama, namun tetap hidup dalam satu ikatan sosial yang utuh. Perayaan keagamaan, peristiwa keluarga, hingga urusan kemasyarakatan dijalani bersama tanpa rasa curiga.
Video dokumentasi tentang Satu Tungku Tiga Batu yang beredar di ruang digital memperlihatkan bahwa toleransi di Papua bukan slogan normatif, melainkan laku hidup yang dijalankan secara konsisten. Nilai ini lahir dari kearifan lokal yang memahami bahwa kehidupan hanya mungkin berjalan jika setiap unsur saling menopang. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah.
Menariknya, falsafah ini sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Prinsip gotong royong, persatuan dalam keberagaman, serta penghormatan terhadap perbedaan menemukan padanannya secara nyata dalam praktik sosial masyarakat Papua. Dalam konteks ini, Pancasila tidak hanya hidup sebagai konsep negara, tetapi tercermin dalam keseharian warga melalui nilai lokal yang telah ada jauh sebelum negara ini berdiri.
Namun, tantangan terhadap nilai toleransi tidak pernah benar-benar hilang. Arus globalisasi, penyebaran informasi tanpa saringan, serta kepentingan politik dan ideologis kerap menguji ketahanan sosial masyarakat. Papua pun tidak kebal dari berbagai narasi yang berpotensi memecah belah. Dalam situasi seperti itu, Satu Tungku Tiga Batu menjadi pengingat penting bahwa ketahanan sosial berakar pada budaya, bukan sekadar regulasi.
Merawat toleransi berarti merawat ruang dialog dan saling percaya. Masyarakat Papua memahami bahwa perbedaan tidak perlu dihapus untuk mencapai harmoni. Justru dengan menerima perbedaan sebagai bagian dari identitas bersama, harmoni menemukan bentuknya yang paling jujur. Falsafah ini menempatkan toleransi bukan sebagai kewajiban moral semata, tetapi sebagai kebutuhan hidup bersama.
Lebih jauh, Satu Tungku Tiga Batu mengajarkan kewaspadaan kolektif. Ketika salah satu unsur dirusak baik oleh provokasi, diskriminasi, maupun narasi kebencian yang runtuh bukan hanya satu kelompok, melainkan seluruh tatanan sosial. Oleh karena itu, menjaga toleransi berarti menjaga rumah bersama.
Di tengah upaya mencari model hidup berdampingan di masyarakat majemuk, Papua memberi pelajaran penting: bahwa toleransi tidak selalu lahir dari konsep besar, tetapi dari kearifan lokal yang dihayati dan dijalankan dalam keseharian. Satu Tungku Tiga Batu membuktikan bahwa harmoni bukan ilusi, melainkan hasil dari kesadaran untuk saling menopang.
Pada akhirnya, merawat falsafah ini bukan hanya tugas masyarakat Papua, tetapi juga tanggung jawab kebangsaan. Nilai-nilai lokal semacam ini layak dirawat, dipelajari, dan dijadikan sumber inspirasi, agar keberagaman Indonesia tetap menjadi kekuatan bukan sumber perpecahan.