Maflindo Butar Butar
Maflindo Butar Butar Bankir

Kebaikan tentang aku beritahu kepada orang lain, keburukan ku bisikkan ke telinga ku, pertanda hidup kita manusia yang ingin maju. Salam Maflindo Butar Butar (Kolumnis di Kolom Kompas.com)

Selanjutnya

Tutup

Video

Pisang Kepok Bakar : Menkmati Waktu dari Pinggir Pantai Manokwari

12 Mei 2026   23:08 Diperbarui: 12 Mei 2026   23:25 82 0 0

Ilustrasi oleh Maflindo Butar Butar
Ilustrasi oleh Maflindo Butar Butar

Di Kampung Nuni, sebuah kampung pesisir di pinggiran Manokwari, Papua Barat, waktu terasa berjalan lebih pelan. Dari bibir pantai, Pulau Kaki tampak jelas di seberang laut, seolah menjadi penanda ketenangan yang konstan. Ombak datang dan pergi tanpa tergesa, angin laut berhembus apa adanya, dan kehidupan berjalan tanpa banyak gimik.

Di tempat ini, saya menikmati pisang kepok bakar di pinggir pantai. Tidak ada penyajian istimewa, tidak ada pelengkap berlebihan. Pisang dibakar sederhana, lalu dimakan sambil memandang laut. Namun justru dari kesederhanaan itulah saya menemukan pengalaman yang jarang ditemui dalam rutinitas sehari-hari: hadir sepenuhnya pada momen.

Pisang kepok bakar bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari keseharian masyarakat Papua, pangan lokal yang dekat dengan kehidupan dan alam. Prosesnya sederhana, rasanya jujur, dan kehadirannya tidak dibuat-buat. Menikmati pisang di tepi pantai Kampung Nuni terasa seperti belajar ulang tentang kecukupan bahwa tidak semua kenikmatan harus datang dari sesuatu yang rumit dan mahal.

Kampung Nuni sendiri menghadirkan pelajaran yang serupa. Ia tidak bersuara lantang, tidak menawarkan atraksi besar, tetapi menyuguhkan ruang refleksi. Dari pinggiran pantai, saya melihat bagaimana alam dan manusia hidup berdampingan. Laut bukan hanya latar, melainkan bagian dari kehidupan; tempat mencari makan, bermain, dan menenangkan pikiran.

Pengalaman ini terasa kontras dengan kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi. Kita terbiasa mengejar waktu, target, dan efisiensi, hingga sering lupa memberi jeda bagi diri sendiri. Di Kampung Nuni, jeda itu hadir secara alami. Duduk, menunggu pisang matang di atas bara, memandang laut semua mengajarkan bahwa melambat bukan berarti tertinggal.

Lebih dari itu, pengalaman sederhana ini juga mengingatkan bahwa pembangunan dan kemajuan tidak selalu harus mengubah segalanya. Di balik wacana modernisasi, ada praktik hidup yang telah lama bertahan karena selaras dengan alam dan kebutuhan manusia. Menikmati pisang kepok bakar di pinggir pantai mungkin terlihat sepele, tetapi di dalamnya tersimpan nilai keseimbangan yang sering kita lupakan.

Bagi saya, pengalaman di Kampung Nuni adalah pengingat penting: bahwa makna hidup sering kali hadir dari ruang-ruang kecil, dari interaksi sederhana, dan dari kesediaan kita untuk berhenti sejenak. Di pinggir pantai Manokwari, dengan pisang kepok bakar di tangan dan Pulau Kaki di hadapan, saya belajar bahwa menikmati hidup tidak selalu membutuhkan banyak hal cukup waktu, alam, dan kesadaran untuk hadir.