Maflindo Butar Butar
Maflindo Butar Butar Bankir

Kebaikan tentang aku beritahu kepada orang lain, keburukan ku bisikkan ke telinga ku, pertanda hidup kita manusia yang ingin maju. Salam Maflindo Butar Butar (Kolumnis di Kolom Kompas.com)

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menyusuri Gunung Meja di Manokwari Papua Barat

13 Mei 2026   06:06 Diperbarui: 13 Mei 2026   18:10 76 3 0

Dok. Pribadi oleh Maflindo Butar Butar
Dok. Pribadi oleh Maflindo Butar Butar

Menyusuri Gunung Meja: Perjalanan Singkat untuk Memahami Arti Menjaga Kehidupan

Perjalanan saya ke Taman Wisata Alam Gunung Meja di Manokwari, Papua Barat, terasa singkat secara jarak, tetapi panjang dalam makna. Lokasinya yang hanya beberapa menit dari pusat kota menjadikan Gunung Meja sebagai ruang unik: hutan yang berdiri berdampingan dengan aktivitas perkotaan, namun tetap memegang peran penting bagi kehidupan banyak orang.

Gunung Meja bukan sekadar kawasan wisata alam. Sejak lama, kawasan ini dipandang sebagai wilayah lindung karena fungsinya dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama sebagai penyangga tata air. Dari kawasan inilah, air dan kesejukan alam menopang kehidupan masyarakat Manokwari. Kesadaran tersebut mengingatkan saya bahwa alam sering memberi manfaat besar tanpa banyak sorotan.

Menyusuri jalur di dalam kawasan Gunung Meja, saya merasakan suasana hutan dataran rendah yang hidup dan tenang. Pepohonan rapat, udara lembap, dan keteduhan alami menciptakan ekosistem yang utuh. Hutan ini menyimpan beragam jenis tumbuhan dan satwa yang hidup berdampingan, membentuk jejaring kehidupan yang tidak sederhana. Melihat langsung keadaan tersebut membuat saya menyadari bahwa data dan laporan lingkungan sering kali tidak mampu menggantikan pengalaman langsung berada di alam.

Kedekatan Gunung Meja dengan kota sekaligus menghadirkan tantangan. Akses yang mudah membuka peluang bagi rekreasi dan edukasi, tetapi juga menghadirkan risiko tekanan aktivitas manusia. Tanpa kesadaran dan pengelolaan yang bijak, kawasan yang selama ini menopang kehidupan justru dapat terancam oleh tangan manusia sendiri.

Perjalanan ini membuat saya kembali merenungkan makna pembangunan. Selama ini, pembangunan sering diukur dari pertumbuhan ekonomi dan kemajuan fisik, sementara alam diperlakukan sebagai pelengkap. Gunung Meja mengajarkan bahwa fondasi kehidupan justru terletak pada keberlanjutan alam itu sendiri. Tanpa hutan yang sehat, kemajuan kehilangan dasarnya.

Pada akhirnya, menikmati Gunung Meja bukan hanya tentang berjalan di tengah hutan, tetapi tentang tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga kawasan yang telah lama menjaga kehidupan manusia. Dari pengalaman singkat ini, saya belajar bahwa merawat alam berarti merawat masa depan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.