Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

I came home with my head bowed low
Mud on my boots, dust on my soul
I knew the porch light still burned for me
But shame kept my hand from the screen
You stood there quiet at the door
I saw the hurt you held before
I said, "My Lord, I've come back through"
And my voice shook all the way through
I wore my mistakes like a second skin
Thought love was gone where I'd been
But you stepped down one board at a time
Like mercy had been waiting in line
You said, "My Son, Come to Me"
Then you reached out slow with grace
And in that moment, hard as stone
I felt my old heart coming to You
Forgive me, Lord, forgive me
(accept me, accept me)
Forgive me, Lord, forgive me
(I'm Your son, I'm Your son)
I'm standing here, don't turn me away
Let your love be the words you say
Forgive me, Lord, forgive me
(accept me, accept me)
by Opa Jappy

Penyesalan sering seperti beban menghimpit dada, membuat langkah kaki terasa berat dan kepala tertunduk lesu; itu realitas hidup dan kehidupan. Melalui "You Said, 'Come to Me'," memunculkan ajakan agar menyelami perasaan diri atau seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidup dan kehidupannya. Dengan sepatu yang penuh lumpur dan jiwa yang berdebu, ia melangkah pulang, membawa jutaan kesalahan yang melekat kuat seperti lapisan kulit kedua. Dengan "berbalut lumpur dan jutaan kesalahan" itu, rasa malu membuat semakin menjauh dari kasih sayang yang sebenarnya selalu ada.
Namun, ada titik balik; ketika menyadari bahwa "lampu teras" rumah-Nya tetap menyala; harapan belum padam, tak ada penolakan tapi penerimaan.
Kasih yang Tak Terbatas. Bagaikan kain jatuh ke dalam lumpur hitam yang pekat, manusia sering merasa diri sudah tidak berharga dan tak mungkin kembali bersih kembali. Namun, di hadapan Tuhan, penyesalan adalah air jernih yang mampu membasuh noda apa pun. Seberapa pun besar dosa yang dilakukan, Tuhan bukan sekedar sosok yang menunggu di balik pintu; namun Ia melangkah turun untuk menjemput.
Kasih Tuhan bukanlah seperti hakim yang mencari kesalahan, tapi barisan yang telah lama menanti memberi pelukan. Ketika seseorang datang pada-Nya dengan suara bergetar mengakui kesalahannya; Tuhan menyambutnya dengan kata-kata lembut, "Anak-Ku, datanglah kepada-Ku." Itu adalah pengingat bahwa pintu ampunan tak terkunci untuk mereka yang datang dengan hati penuh kehancuran dan penyesalan.
Momen penerimaan itu, mengubah hati sekeras batu menjadi lembut karena sentuhan anugerah. Sebab, tidak ada jiwa yang terlalu kotor untuk dibasuh; serta tiada orang berdosa yang tak diterima kembali. Seburuk apa pun perjalanan yang dilalui, selalu ada uluran tangan dengan penuh anugerah siap menerima, jika berani melangkah pulang.
