Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Berkah saya yang selalu datang pagi hari di tempat kerja ternyata ada hikmah yang bisa saya petik, adalah tarian lebah penghisap madu bunga-bunga yang bermekaran dimusim penghujan ini.
Disela persiapan kegiatan "Market Day" hari Jum'at tanggal 23 Februari 2024, saya masih sempat mengabadikan lebah-lebah dan bunga-bunga yang menyajikan lembaran demi lembaran berisi catatan alam bagi kita yang peka dan peduli akan kehadirannya. Mereka adalah pasangan yang tak terpisahkan, menjalin hubungan yang menyatukan kecantikan dan kejantanan dalam keberagaman alam.
Di tengah kehidupan urban kota penyangga ibu kota, ruang hijau semakin terkikis. Kehadiran lebah penghisap sari bunga ini merupakan hal yang istimewa, sementara saya juga tidak tahu di mana mereka bersarang.
Jika memang lebah yang saya saksikan ini adalah lebah madu, tentunya sarangnya akan diburu untuk di ambil madunya. Tapi terlepas dari benar atau tidaknya, kehadiran mereka adalah pertanda bahwa rantai kehidupan di lingkungan ini masih sehat.
Untuk merayakan kehadiran mereka saya coba susun sebuah puisi video sebagai berikut:
HARMONI PAGI YANG SIBUK
Di pagi yang sibuk, hening kutemui,
kumbang-kumbang dansa, bunga mekar memuja.
Mereka tari indah, dalam kehidupan serba cepat,
seolah pesan alam, lembutkan hati yang terpaku.
Kesibukan tiada henti, namun keindahan menyapa,
kumbang di sela waktu, pesan cinta alam terbawa.
Bunga-bunga bermekar, rahmat pagi yang mengalun,
mengajak langkah ringan, di lorong kehidupan yang panjang.
Hinggaplah sejenak, wahai jiwa yang lelah,
rasakan getaran alam, pelukan hangat pagi.
Dalam kegiatan riuh, kehidupan menyiratkan pesan,
bahwa keindahan tak pernah luput, meski dalam kesibukan yang membentang.
Jadilah kumbang yang lembut, menghisap kasih dari bunga,
meski sibuk melanda, jangan lewatkan pesona.
Pagi membawa inspirasi, disetiap detik yang berlalu,
saksikan tarian kumbang, dalam harmoni yang abadi.
Bekasi, 23 Februari 2024
oleh: Gushend