Guru di Kota Bekasi yang tertarik menulis di Kompasiana. Penulis reflektif, dan pengamat kehidupan sosial sehari-hari. Menulis bagi saya adalah cara merekam jejak, menjaga kenangan, sekaligus mengolah ulang pengalaman menjadi gagasan yang lebih jernih. Saya tumbuh dari kisah pasar tradisional, sawah, dan gunung yang menjadi latar masa kecil di Cisalak-Subang. Kini, keseharian sebagai guru membuat saya dekat dengan cerita murid, dunia pendidikan, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Di Kompasiana, saya banyak menulis tentang: pendidikan yang manusiawi, dinamika sosial budaya, kenangan kecil yang membentuk cara pandang, serta fenomena keseharian seperti kafe, pasar, hujan, dan keluarga. Saya punya prinsip tulisan yang baik bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, tersenyum, atau tergerak untuk berubah.

Di era media sosial, kita kerap menyaksikan berbagai konten tentang anabul kucing dan anjing kesayangan yang hidup dalam kemewahan. Mereka tampil dalam balutan pakaian lucu, bermain dengan mainan mahal, atau menikmati makanan premium.
Namun di balik layar gemerlap tersebut, ada kisah lain yang jauh lebih menyedihkan: kucing-kucing terlantar yang dibuang begitu saja oleh pemiliknya, seperti fenomena memilukan yang terjadi di sekolah kami.
Anabul dan Ekspektasi Media Sosial
Kehadiran anabul kini tak sekadar tentang hubungan antara manusia dan hewan, ia telah menjadi bagian dari gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. Pemilik anabul berlomba-lomba menampilkan hewan peliharaan mereka dengan segala kemewahan, menjadikan kucing dan anjing seperti status simbol.
Sayangnya di balik tren ini, muncul perilaku yang paradoks. Tak sedikit orang memelihara kucing hanya karena ikut-ikutan, tanpa memahami komitmen dan tanggung jawab jangka panjang.
Ketika anabul mulai dianggap merepotkan atau tidak memenuhi ekspektasi, mereka dengan mudah dibuang tak lagi dianggap sebagai sahabat atau keluarga melainkan beban.
Ironisnya, tren memuja anabul di media sosial justru bertolak belakang dengan kenyataan kucing-kucing terlantar yang kami saksikan setiap hari di lingkungan sekolah.
Sekolah Kami: Rumah Bagi Kucing Terbuang
Di tempat kami belajar dan mengajar, kucing-kucing terlantar menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak dari mereka adalah hewan peliharaan yang pernah dirawat dengan baik, tetapi kini dibiarkan berkeliaran tanpa tujuan.
Kucing-kucing ini datang dalam kondisi kurus, sakit, dan kelaparan. Beberapa di antaranya bahkan masih mengenakan kalung, tanda bahwa mereka dulunya milik seseorang.