Agustina Purwantini
Agustina Purwantini Freelancer

Pada dasarnya full time blogger, kadang jadi editor naskah, suka buku, serta hobi blusukan ke tempat heritage dan unik.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Nasib Bung Karno Sebagai Patung

18 Mei 2026   23:03 Diperbarui: 18 Mei 2026   23:17 71 2 1


Bung Karno terbelah dua (Dokpri Agustina)
Bung Karno terbelah dua (Dokpri Agustina)

Kompasianers, saya hendak bercerita mengenai satu hal yang tampak sepele namun sesungguhnya tidak sepele-sepele amat. 

Sebagaimana yang tersirat dalam judul di atas, tulisan ini memang tentang Bung Karno. Persisnya tentang nasib Bung Karno dalam bentuk patung raksasa.

Begini ceritanya. Mula-mula saya berjumpa dengan patung raksasa Bung Karno di pojokan perempatan Titik Nol Kota Yogyakarta, pada Agustus 2024. Malam hari. Pada sebuah Kamis malam yang gerah. Silakan baca kisahnya di tulisan berjudul "Woiii, Ini Bung Karno!"

Tatkala itu orang-orang yang lalu lalang di depannya selalu mendongak ke atas. Ke arah kepala dan wajah si patung. Saya dan teman-teman pun kesusahan ambil sudut paling pas buat memotret. Susahnya karena kami mesti waspada dengan kendaraan-kendaraan yang selalu melaju lumayan cepat di sekitar posisi patung. Masak iya  ketabrak mobil atau motor cuma gara-gara hendak memotret patung Bung Karno?

Tak terasa 2 tahun berjalan. Tibalah 2026. Ramadan ... tiga hari jelang Idulfitri saya ke rumah orang tua teman semasa kuliah. Dia sudah mudik dan meminta saya berkunjung. Rumahnya di sekitaran Masjid Pathok Negoro Dongkelan kauman Tirtonirmolo Kasihan Bantul.

Tak disangka-sangka sesampai di perempatan kecil Dusun Tegal Senggotan, saya melihat patung Bung Karno ngejogrok di sebuah tempat yang layak disebut gudang. Badannya terbelah dua. Saya ingin berhenti untuk memotretnya, tetapi saat itu tidak memungkinkan untuk berhenti. Tentu ada rasa sesal di hati ini.

Singkat cerita, Lebaran hari ketiga saya kembali mengunjungi teman tersebut. Malam sebelum kunjungan, saya berkirim pesan WA kalau ingin diantar motret patung Bung Karno yang terbelah. Saya ceritakan lokasinya yang relatif dekat dari rumahnya. 

Untunglah adiknya pernah tahu patung itu. Jadi, bisa memberikan ancer-ancer yang akurat.  Hingga akhirnya kami, teman saya dan saya, tidak perlu kesasar ketika mencari si patung. 

Hasilnya? Seperti yang terangkum di video yang tersemat di tulisan ini.

Sepintas lalu cuma terlihat sebagai sebuah cerita tentang kebetulan demi kebetulan. Eh, ujungnya jadi mikir-mikir terkait sampah berkarya. Betapa tidak? Kalau sudah terbelah dua begitu, berarti tak lagi dipergunakan. Kemungkinannya dua saja: sekadar jadi sampah atau bakalan didaur-ulang.

Nah. Terbukti 'kan kalau cerita saya tidak sepele-sepele amat? Buktinya malah jadi kepikiran tentang problema sampah.

Salam.