Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Hari ini adalah Sabtu Suci, momen yang oleh tradisi Gereja disebut sebagai "Keheningan Agung". Namun, di sebuah sudut jauh di pedalaman Papua, keheningan itu tidak berarti diam tanpa gerak. Keheningan itu justru membelah arus sungai yang cokelat dan luas, diangkut oleh sebuah perahu kayu yang menderu, membawa seorang gembala tua menuju kawanannya.
Romo Tjokro duduk di buritan perahu. Penampilannya jauh dari kesan jubah liturgis yang kaku. Dengan topi rimba bermotif kamuflase, kacamata hitam yang melindungi dari silau pantulan air, dan jaket denim yang kokoh, ia tampak seperti seorang perintis, seorang pengembara ruhani yang telah menyatu dengan kerasnya alam. Guratan di wajahnya adalah peta dari ribuan mil perjalanan yang telah ia tempuh, namun sorot matanya tetap tenang, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menyerahkan seluruh kendali hidupnya ke tangan Sang Pencipta.
Siap melayani Paskah (kiriman Rm Tjokro)
Di sekelilingnya, dinding hijau hutan tropis berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu atas "penantian aktif" yang sedang ia jalani. Di atas perahu yang bergoyang dihantam riak sungai, Romo Tjokro sedang melintasi "Sheol"-nya sendiri, sebuah perjalanan di antara yang hidup dan yang mati, di antara tragedi Jumat dan sukacita Minggu. Sungai yang keruh dan luas itu menjadi metafora dari luasnya kasih Allah yang ingin ia hantarkan ke jantung-jantung yang terisolasi oleh geografi.
Di depan, beberapa umat duduk bersamanya di atas papan kayu yang sederhana. Cipratan air sungai yang membasahi lambung perahu menjadi "percikan air suci" yang konstan dalam perjalanan ini. Mereka bukan sedang menuju sebuah katedral megah dengan lampu kristal. Mereka sedang menuju sebuah gereja kecil di pelosok, di mana nanti malam, cahaya lilin Paskah akan terasa ribuan kali lebih terang karena dinyalakan di tengah kegelapan hutan yang paling pekat.
Sabtu Suci bagi Romo Tjokro adalah tentang gerak dalam diam. Meski dunia melihatnya hanya sebagai seorang pria tua di atas perahu motor, secara ruhani ia sedang membawa "Api Kristus" melintasi air. Ia pergi untuk membuktikan bahwa tidak ada sudut bumi yang terlalu jauh, tidak ada rawa yang terlalu dalam, dan tidak ada kesunyian yang terlalu mencekam bagi rekonsiliasi Allah.
Ketika senja mulai turun di cakrawala Papua, perahu itu akan merapat. Di sana, umat telah menunggu. Di sana, di tengah kesederhanaan yang total, Misa Malam Paskah akan dirayakan. Romo Tjokro akan menanggalkan topi rimbanya, mengenakan kasula, dan mewartakan dengan suara mantap: "Lumen Christi", Terang Kristus.
Dan di pedalaman itu, kegelapan malam tidak akan lagi terasa menakutkan. Sebab fajar Paskah telah tiba lebih awal, dibawa oleh seorang gembala yang percaya bahwa pelayanan sejati adalah keberanian untuk menembus keheningan makam demi menjemput kehidupan.
Rm Tjokro siap melayani Paskah di pedalaman (kirim Rm Tjokro)