Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Pesan dari istri berbunyi singkat namun penuh bobot: "Tamu pelayat sangat banyak, termasuk selama ini yang tidak pernah kenal." Lalu masuk dalam suasana adat yang sakral, "Suasananya bikin merinding."
Di sisi peti, ada orang-orang yang dipilih secara khusus: para peratap. Mereka bukan sekadar orang yang kebetulan menangis, mereka bertugas menangis. Ketika rombongan pelayat tiba, para peratap mengeraskan tangisnya, memimpin ratapan dengan syair-syair adat yang telah dihapal sejak kecil. Dalam tradisi ini, orang yang menyanyikan syair duka bukan sembarang orang. Mereka dipilih, mereka memulai dengan sembahyang, dan mereka tidak boleh digantikan selama bertugas. Jika salah mengucapkan syair, mereka wajib memohon ampun kepada Marapu, karena kesalahan dalam ritual bisa membawa dampak yang tidak diinginkan bagi dunia yang hidup.
Sarung adat yang dibawa para pelayat akan dimasukkan ke dalam peti, menemani sang mendiang dalam perjalanannya ke negeri leluhur. Hewan-hewan yang dibawa ditambatkan di halaman kampung, menunggu hari pemotongan. Keluarga mencatat semuanya dengan cermat: siapa yang datang, dari mana, membawa apa. Karena suatu hari nanti, ketika kesedihan menghampiri rumah para pelayat itu, keluarga yang sama harus "membayar ganti", hadir, membawa sesuatu, turut memikul duka.
Ini bukan utang. Ini adalah tali yang menjaga semua orang tetap terhubung.
Di luar, dunia bergerak dengan ritme berbeda.
Suara gong dan gendang mengalun tanpa henti, siang dan malam. Para laki-laki, dari yang sudah tua hingga anak-anak, melakukan ronggeng sambil menggenggam parang. Para perempuan dan gadis-gadis menari di sisi mereka. Bukan tarian kegembiraan semata, bukan pula tangisan murni. Ini adalah tarian penghormatan, renja pai dalam bahasa Sumba, yang menceritakan perjalanan hidup sang mendiang sekaligus mengantarnya menuju alam berikutnya.
Selama upacara berlangsung, setiap malam ada ritual adat bersama rombongan pelayat. Tetua adat berdiri dan menyebutkan nama-nama: siapa saja yang datang, dari mana, membawa apa. Tidak ada yang luput dari penyebutan. Ini bukan sekadar prosedur administratif, ini adalah pengakuan. Pengakuan bahwa setiap kehadiran bermakna, bahwa setiap orang yang telah hadir membawa bagian dari kampungnya, dari sukunya, dari garis leluhurnya sendiri.
Ribuan orang. Dari kampung yang jauh. Dari hubungan yang kadang sudah sangat tipis oleh jarak generasi. Namun, semua datang.
Besok adalah hari ketujuh. Hari pemakaman.
Dalam kepercayaan Marapu, kematian seseorang yang berstatus bangsawan (atau dalam hal ini, istri seorang Imam Marapu) diperlakukan dengan penghormatan penuh. Semakin tinggi status seseorang dalam tatanan adat, semakin besar pula upacara yang mengiringinya. Semakin banyak hewan yang dikurbankan. Semakin panjang masa perkabungan. Semakin banyak orang yang harus hadir sebagai saksi.
Besok, jenazah akan diusung dalam sebuah prosesi. Gong dan tambur akan dibunyikan dengan irama cepat, tanda bahwa saat perpisahan sudah tiba. Hewan-hewan yang selama ini ditambatkan di halaman akan dipotong sebagai kurban. Dalam kepercayaan Marapu, hewan kurban adalah penjalin hubungan yang harmonis antara yang masih hidup dan arwah leluhur, bukan sekadar sajian, melainkan pesan yang dikirim ke alam lain. (Kerbau kurban)