Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

[sociocultural] Altar Terakhir: Ketika Duka Menjadi Perayaan di Tanah Marapu

26 Juni 2026   07:37 Diperbarui: 26 Juni 2026   07:51 95 10 2

Kubur batu megalit telah disiapkan. Ukurannya berbicara tentang status. Jenazah akan diletakkan dalam posisi menunduk, seperti janin dalam rahim, seperti seseorang yang sedang bersiap untuk lahir kembali. Karena dalam logika Marapu, kematian bukan akhir, melainkan kelahiran ke alam berikutnya. Batu besar akan menutup, ditopang oleh empat batang batu tegak di sekelilingnya.

Dan ketika semua itu selesai, seorang wunang (juru bicara keluarga) akan naik ke atas kubur atau tempat yang lebih tinggi. Ia akan berbicara. Menyampaikan isi hati keluarga. Mengumumkan apa yang perlu diumumkan. Dan dengan itu, masa berkabung resmi akan dimulai sampai beberapa hari kemudian, ketika seluruh keluarga dan tetangga diundang lagi untuk menutupnya.

Duka yang Tidak Sendiri

Apa yang terjadi di kampung itu selama tujuh hari ini bukan sekadar ritual perkabungan menjelang pemakaman. Ini adalah peneguhan bahwa tidak ada yang pergi sendirian. Tidak ada yang berduka sendirian.

Dalam masyarakat yang menganut Marapu, upacara kematian adalah puncak dari seluruh jalinan sosial yang telah dibangun selama bertahun-tahun oleh perkawinan, oleh perjanjian adat, oleh kehadiran dalam upacara orang lain. Semua itu kini dikembalikan, dilunasi bukan dengan uang, tetapi dengan kehadiran.

Duka dan senang membaur dalam tarian dan ronggeng, dalam tangisan, nyanyian, dan iringan gong.

Dan mungkin itulah yang paling sulit dipahami dari luar: bagaimana sesuatu yang tampak sebagai pesta bisa menjadi duka yang paling dalam. Bagaimana suara gong yang bertalu bisa sekaligus menjadi tangisan dan perayaan. Bagaimana sebuah kampung yang dipadati ribuan orang bisa menjadi tempat yang paling sunyi di dalam hati mereka yang ditinggalkan.

Karena di Tanah Marapu, yang meninggal tidak benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah altar.

++

NB: Upacara kematian dalam tradisi Marapu di Sumba merupakan salah satu warisan budaya megalitik yang masih hidup dan dipraktikkan hingga hari ini, meskipun banyak masyarakat Sumba kini juga memeluk agama Kristen atau Katolik. Tradisi ini terus berkembang secara dinamis, mempertahankan unsur-unsur fundamental sambil beradaptasi dengan zaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3