Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Senja di Kampung Pameruka, Sumba Barat Daya, bukan senja biasa. Di bawah langit jingga yang perlahan ditelan malam, tabuhan gong mengalun: bukan irama pesta, melainkan irama duka yang dalam, berirama lambat seperti detak jantung yang berat. Itulah Pa Hengingu, bunyi gong kematian yang berbeda dari segala bunyi lain di tanah Sumba. Siapa pun yang lahir dan besar di sana akan langsung tahu: ada jiwa yang sedang berpamitan.
Hari ini adalah hari keenam (maksudnya tadi malam, Jumat 26 Juni malam). Satu hari lagi sebelum Ina, perempuan yang telah melahirkan, merawat, dan menjadi pusat dari keluarga besar ini, akhirnya dimakamkan. Tapi "dimakamkan" mungkin bukan kata yang tepat. Dalam alam pikir kepercayaan Marapu, yang terjadi bukan penguburan. Yang terjadi adalah sebuah perjalanan. Sebuah kepulangan.
Untuk memahami apa yang terjadi di Pameruka malam ini, kita perlu memahami lebih dulu siapa Marapu itu.
Marapu adalah sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar dunia menginjakkan kaki di pulau ini. Kata marapu sendiri merujuk pada para dewa, roh leluhur, dan kekuatan-kekuatan spiritual yang dipercaya mengatur kehidupan manusia. Kepercayaan ini bukan sekadar agama dalam pengertian modern. Ia adalah cara hidup, cetak biru kosmologis yang membentuk seluruh tatanan sosial, politik, dan budaya masyarakat Sumba dari zaman megalitik hingga hari ini.
Salah satu prinsip paling fundamental dalam Marapu adalah bahwa leluhur tidak pernah benar-benar pergi. Mereka terus mengawasi, membimbing, dan melindungi keturunan mereka dari alam roh. Kematian, dalam pandangan ini, bukanlah kepunahan, melainkan transformasi. Seorang yang meninggal sedang dalam perjalanan menuju Parai Marapu, sebuah negeri leluhur yang abadi, semacam surga tempat para arwah bersemayam dan dari sana terus hadir bagi orang-orang yang ditinggalkan.
Karena itulah, kematian di Sumba tidak pernah diperlakukan sebagai bencana yang harus diselesaikan secepat mungkin. Ia diperlakukan sebagai peristiwa kosmis yang memerlukan persiapan, penghormatan, dan ritual yang layak agar jiwa yang pergi dapat tiba di tujuannya dengan selamat, terhormat, dan disambut oleh para leluhur yang sudah lebih dulu menunggu.
Upacara kematian Marapu bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung pada status sosial almarhum dan kesiapan keluarga. Di Pameruka, Ina dipestakan selama tujuh hari tujuh malam. Selama itu, jenazah disemayamkan di dalam rumah adat (uma) dalam posisi seperti janin, duduk meringkuk, simbol bahwa manusia akan kembali ke titik awal, ke posisi saat pertama kali hadir di dunia ini, dan siap dilahirkan kembali ke alam yang lain. Setelah itu, baru diletakkan dalam peti dan dibaringkan dekat altar.
Rumah duka tidak pernah sepi. Pelayat datang silih berganti. Ada yang menangis, ada yang berdoa, ada yang mengobrol, ada pula yang tertawa mengingat kenangan bersama si almarhum. Di Sumba, suasana rumah duka bisa terasa seperti perpaduan yang membingungkan bagi orang luar: duka dan keramaian, tangis dan gelak tawa, sakral dan duniawi, semuanya hadir bersama dalam satu ruang. Dan itu bukan kejanggalan. Itu adalah bentuk penghormatan. Keramaian adalah tanda bahwa seseorang itu berarti, bahwa hidupnya meninggalkan jejak pada banyak orang.