Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Di tengah semua itu, para peratap menjalankan tugasnya: tim khusus yang meratap dan melagukan ungkapan duka dalam melodi tradisional. Ratapan mereka bukan sekadar ekspresi kesedihan, ia adalah narasi lisan yang menuturkan kisah hidup si almarhum, jasa-jasanya, dan doa-doa untuk perjalanannya ke Parai Marapu. Ini adalah puisi yang hidup, tradisi lisan yang merawat ingatan kolektif.
Di senja hari keenam itu, satu momen penting terjadi. Sebuah keluarga kecil mendapat kesempatan dari keluarga besar untuk mempersembahkan seekor babi. Ini bukan sekadar "membawa lauk makan malam." Ini adalah ritual persembahan yang memiliki dimensi sosial dan spiritual yang dalam.
Di hadapan seluruh keluarga besar, di bawah sorot mata para tetua adat dan Imam Marapu, pemuka spiritual yang menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia roh, istri saya berdiri mewakili keluarga kecilnya. Ia menyampaikan persembahan itu sebagai wujud bakti, cinta, dan penghormatan terakhir untuk Ina. Kata-katanya tulus: "Meski tak sebanding dengan besarnya pengorbanan Mama semasa hidup, semoga persembahan sederhana ini diterima dengan kehangatan hati sebagai simbol kasih yang takkan putus."
Ada suasana magis di sana. Ada suasana sakral. Babi itu bukan sekadar hewan. Ia adalah medium, jembatan yang menghubungkan keluarga yang masih hidup dengan jiwa yang sedang dalam perjalanan. Imam Marapu melantunkan doa-doa khusus. Para tetua adat menyaksikan. Dan seluruh komunitas yang hadir menjadi saksi kolektif atas peristiwa itu.
Sebagai respons atas persembahan itu, keluarga besar memberikan empat lembar sarung (sesuai dengan jumlah anggota keluarga kecil kami). Bagi orang luar, ini mungkin terlihat seperti transaksi. Tapi dalam logika sosial Marapu, ini adalah bagian dari sistem pertukaran yang disebut belis (meski saya sendiri belum melakukannya untuk istriku), jaringan timbal balik yang mengikat keluarga-keluarga dalam hubungan yang saling menanggung. Setiap persembahan dicatat, bukan di buku, tapi di ingatan kolektif komunitas. Setiap pemberian akan dibalas pada waktunya. Ini adalah ekonomi kepercayaan yang telah berjalan ribuan tahun.

Maka tibalah hari terakhir. Hari ketujuh. Hari ini. Rencananya pukul 14.00 WITA.
Inilah hari Kedhe (atau Kedde), upacara puncak yang menjadi penutup sekaligus klimaks dari seluruh rangkaian ritual. Bila hari-hari sebelumnya adalah persiapan dan penghormatan, hari ini adalah pelepasan resmi. Hari ini, arwah Ina benar-benar diantarkan ke Parai Marapu, diiringi doa dan persembahan terbesar yang bisa diberikan oleh mereka yang masih hidup.
Dan persembahan terbesar itu adalah seekor kerbau jantan besar.
Mengapa kerbau? Dalam hierarki simbol Marapu, kerbau, terutama kerbau jantan yang besar dan sehat, adalah hewan paling agung. Ia adalah lambang kekayaan, kekuatan, dan martabat. Mempersembahkan kerbau jantan adalah pernyataan tertinggi dari kasih sayang dan penghormatan keluarga kepada almarhumah. Ini mengatakan: "Engkau berharga. Engkau layak mendapat yang terbaik dari kami."
Secara spiritual, darah kerbau yang mengalir di tanah kampung bukan sekadar kematian hewan itu. Ia adalah mata rantai kosmis, penghubung antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat, antara yang masih hidup dan yang sudah menjadi leluhur. Hewan kurban itu dipercaya akan menemani arwah dalam perjalanannya, menjadi bekal dan penjaga di alam yang lain. Imam Marapu memimpin doa-doa panjang atas tubuh kerbau itu, memastikan setiap kata, setiap gerakan ritual dilakukan dengan tepat, karena satu kesalahan dalam prosesi bisa berarti arwah tidak sampai ke tujuan dengan selamat.