Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Secara sosial, penyembelihan kerbau jantan di hadapan ratusan pelayat dan keluarga juga merupakan pernyataan publik. Ia menegaskan status sosial keluarga, menunjukkan solidaritas klan, dan memperkuat jaringan kekerabatan yang menjadi tulang punggung kehidupan komunal di Sumba. Siapa yang menyumbang, siapa yang hadir, siapa yang mengucapkan kata perpisahan, semua itu dicatat oleh ingatan kolektif komunitas, dan akan menjadi dasar dari hubungan sosial di masa yang akan datang.
Sementara gong ditabuh, jenazah Ina diusung turun dari rumah adat dalam prosesi yang disebut Papapurungu. Irama gong berubah (menjadi lebih cepat, lebih mendesak) menandakan bahwa saat penguburan sudah tiba. Di sepanjang jalan menuju liang kubur, lagu-lagu Sumba dilantunkan. Dan ketika jenazah akhirnya dimasukkan ke dalam kubur batu megalitik, batu besar yang dilubangi, lalu ditutup kembali dengan batu lain, itulah momen paling senyap di antara segala keramaian. Bukan karena tidak ada suara. Justru sebaliknya: dari keheningan batin itu, terasa betapa besar cintanya yang ditinggalkan oleh seorang Ina.
Setelah penguburan selesai, seorang Wunang (juru bicara keluarga) naik ke atas kubur atau tempat yang lebih tinggi. Ia berbicara: menyampaikan isi hati keluarga, mengumumkan hal-hal yang perlu diketahui bersama, dan secara simbolis mengucapkan selamat tinggal yang resmi. Ini adalah Pahewa, momen perpisahan. Dan dengan itu, rangkaian panjang upacara kematian pun selesai.
Kerbau yang akan Dikurbankan oleh Anak-anak untuk Mama Tercinta
Para peneliti dan budayawan yang pernah mendalami tradisi Marapu tidak jarang menemukan diri mereka kagum oleh kedalaman sistem nilai yang terkandung di dalamnya.
Antropolog Clifford Geertz, dalam kerangka analisisnya yang kerap digunakan untuk memahami agama-agama lokal di Indonesia, menyebut bahwa sistem kepercayaan seperti Marapu telah menjadi model of reality sekaligus model for reality bagi masyarakat Sumba, ia tidak hanya mencerminkan bagaimana mereka memahami dunia, tetapi juga membentuk bagaimana mereka menjalani hidup dan menghadapi kematian. Konsepsi tentang Parai Marapu menjadi peta kognitif yang memandu keluarga dalam memuliakan orang yang meninggal, memberikan bekal kubur, dan mempersembahkan hewan kurban.
Peneliti Luh Solihin dalam kajiannya tentang upacara kubur batu di Sumba Timur mencatat bahwa upacara ini diselenggarakan secara kolosal dengan melibatkan jaringan kerabat yang luas, sebuah fakta yang menunjukkan betapa upacara kematian Marapu bukan hanya peristiwa keluarga, melainkan peristiwa komunal yang mempererat jalinan sosial seluruh masyarakat.
Ada yang perlu digarisbawahi di sini: tradisi ini tidak sedang hidup dalam museum. Ia hidup di halaman rumah, di tabuhan gong malam hari, di kata-kata seorang istri yang berdiri di hadapan keluarga besar sambil memegang babi kecil, dan mengatakannya dengan hati yang penuh. Itulah yang membuat tradisi ini tetap relevan: ia berbicara tentang hal-hal yang paling manusiawi, cinta, kehilangan, kenangan, dan harapan bahwa ikatan kita dengan orang-orang tercinta tidak benar-benar putus oleh kematian.
Di ujung tujuh hari tujuh malam itu, ketika Ina akhirnya berangkat ke Parai Marapu, ia tidak pergi sendirian. Ia pergi diiringi doa-doa, dengan bekal kain dan hewan kurban, dengan tangis yang tulus dan kenangan yang hangat. Ia pergi dengan mengetahui bahwa keluarganya, termasuk mereka yang jauh di tanah rantau, telah mempersembahkan yang terbaik dari kemampuan mereka.
Dan suatu hari, ketika keluarga mengadakan Langu Paraingu, pesta negeri dengan mengundang para leluhur hadir kembali melalui doa dan sembahyang, Ina pun akan datang. Bukan dalam wujud jasad. Tapi dalam bentuk berkah, perlindungan, dan kehadiran yang tak terlihat namun terasa.
Sebab di Tanah Humba, kematian bukan akhir dari cerita. Ia hanyalah pergantian babak.