Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

[sociocultural]: Di Bawah Langit Pameruka, Sumba Barat Daya: Perjalanan Terakhir ke Parai Marapu

27 Juni 2026   08:19 Diperbarui: 27 Juni 2026   08:25 256 10 0

Di Bawah Langit Pameruka, Sumba Barat Daya: Perjalanan Terakhir ke Parai Marapu

Ketika Kematian Bukan Akhir, Melainkan Pulang

 

(Ina Wini Moda, mama mertuaku beristirahatlah dalam keabadian, dokpri)
(Ina Wini Moda, mama mertuaku beristirahatlah dalam keabadian, dokpri)

Senja di Kampung Pameruka, Sumba Barat Daya, bukan senja biasa. Di bawah langit jingga yang perlahan ditelan malam, tabuhan gong mengalun: bukan irama pesta, melainkan irama duka yang dalam, berirama lambat seperti detak jantung yang berat. Itulah Pa Hengingu, bunyi gong kematian yang berbeda dari segala bunyi lain di tanah Sumba. Siapa pun yang lahir dan besar di sana akan langsung tahu: ada jiwa yang sedang berpamitan.

Hari ini adalah hari keenam (maksudnya tadi malam, Jumat 26 Juni malam). Satu hari lagi sebelum Ina, perempuan yang telah melahirkan, merawat, dan menjadi pusat dari keluarga besar ini, akhirnya dimakamkan. Tapi "dimakamkan" mungkin bukan kata yang tepat. Dalam alam pikir kepercayaan Marapu, yang terjadi bukan penguburan. Yang terjadi adalah sebuah perjalanan. Sebuah kepulangan.

Marapu: Ketika Leluhur Tidak Pernah Benar-benar Pergi

Untuk memahami apa yang terjadi di Pameruka malam ini, kita perlu memahami lebih dulu siapa Marapu itu.

Marapu adalah sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar dunia menginjakkan kaki di pulau ini. Kata marapu sendiri merujuk pada para dewa, roh leluhur, dan kekuatan-kekuatan spiritual yang dipercaya mengatur kehidupan manusia. Kepercayaan ini bukan sekadar agama dalam pengertian modern. Ia adalah cara hidup, cetak biru kosmologis yang membentuk seluruh tatanan sosial, politik, dan budaya masyarakat Sumba dari zaman megalitik hingga hari ini.

Salah satu prinsip paling fundamental dalam Marapu adalah bahwa leluhur tidak pernah benar-benar pergi. Mereka terus mengawasi, membimbing, dan melindungi keturunan mereka dari alam roh. Kematian, dalam pandangan ini, bukanlah kepunahan, melainkan transformasi. Seorang yang meninggal sedang dalam perjalanan menuju Parai Marapu, sebuah negeri leluhur yang abadi, semacam surga tempat para arwah bersemayam dan dari sana terus hadir bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Karena itulah, kematian di Sumba tidak pernah diperlakukan sebagai bencana yang harus diselesaikan secepat mungkin. Ia diperlakukan sebagai peristiwa kosmis yang memerlukan persiapan, penghormatan, dan ritual yang layak agar jiwa yang pergi dapat tiba di tujuannya dengan selamat, terhormat, dan disambut oleh para leluhur yang sudah lebih dulu menunggu.

Anggota Keluarga dan Para Pelayat Membaur dalam Tari dan Ronggeng di hari Keenam (menjelang hari Ketujuh)

Tujuh Hari Tujuh Malam: Antara Duka dan Pesta

Upacara kematian Marapu bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung pada status sosial almarhum dan kesiapan keluarga. Di Pameruka, Ina dipestakan selama tujuh hari tujuh malam. Selama itu, jenazah disemayamkan di dalam rumah adat (uma) dalam posisi seperti janin, duduk meringkuk, simbol bahwa manusia akan kembali ke titik awal, ke posisi saat pertama kali hadir di dunia ini, dan siap dilahirkan kembali ke alam yang lain. Setelah itu, baru diletakkan dalam peti dan dibaringkan dekat altar.

Rumah duka tidak pernah sepi. Pelayat datang silih berganti. Ada yang menangis, ada yang berdoa, ada yang mengobrol, ada pula yang tertawa mengingat kenangan bersama si almarhum. Di Sumba, suasana rumah duka bisa terasa seperti perpaduan yang membingungkan bagi orang luar: duka dan keramaian, tangis dan gelak tawa, sakral dan duniawi, semuanya hadir bersama dalam satu ruang. Dan itu bukan kejanggalan. Itu adalah bentuk penghormatan. Keramaian adalah tanda bahwa seseorang itu berarti, bahwa hidupnya meninggalkan jejak pada banyak orang.

Di tengah semua itu, para peratap menjalankan tugasnya: tim khusus yang meratap dan melagukan ungkapan duka dalam melodi tradisional. Ratapan mereka bukan sekadar ekspresi kesedihan, ia adalah narasi lisan yang menuturkan kisah hidup si almarhum, jasa-jasanya, dan doa-doa untuk perjalanannya ke Parai Marapu. Ini adalah puisi yang hidup, tradisi lisan yang merawat ingatan kolektif.

Babi dan Sarung: Ekonomi Sakral di Hadapan Leluhur

Di senja hari keenam itu, satu momen penting terjadi. Sebuah keluarga kecil mendapat kesempatan dari keluarga besar untuk mempersembahkan seekor babi. Ini bukan sekadar "membawa lauk makan malam." Ini adalah ritual persembahan yang memiliki dimensi sosial dan spiritual yang dalam.

Di hadapan seluruh keluarga besar, di bawah sorot mata para tetua adat dan Imam Marapu, pemuka spiritual yang menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia roh, istri saya berdiri mewakili keluarga kecilnya. Ia menyampaikan persembahan itu sebagai wujud bakti, cinta, dan penghormatan terakhir untuk Ina. Kata-katanya tulus: "Meski tak sebanding dengan besarnya pengorbanan Mama semasa hidup, semoga persembahan sederhana ini diterima dengan kehangatan hati sebagai simbol kasih yang takkan putus."

Ada suasana magis di sana. Ada suasana sakral. Babi itu bukan sekadar hewan. Ia adalah medium, jembatan yang menghubungkan keluarga yang masih hidup dengan jiwa yang sedang dalam perjalanan. Imam Marapu melantunkan doa-doa khusus. Para tetua adat menyaksikan. Dan seluruh komunitas yang hadir menjadi saksi kolektif atas peristiwa itu.

Sebagai respons atas persembahan itu, keluarga besar memberikan empat lembar sarung (sesuai dengan jumlah anggota keluarga kecil kami). Bagi orang luar, ini mungkin terlihat seperti transaksi. Tapi dalam logika sosial Marapu, ini adalah bagian dari sistem pertukaran yang disebut belis (meski saya sendiri belum melakukannya untuk istriku), jaringan timbal balik yang mengikat keluarga-keluarga dalam hubungan yang saling menanggung. Setiap persembahan dicatat, bukan di buku, tapi di ingatan kolektif komunitas. Setiap pemberian akan dibalas pada waktunya. Ini adalah ekonomi kepercayaan yang telah berjalan ribuan tahun.

(kerbau yang akan disembelih hari ini, hari ketujuh, hari pemakaman, dokpri)
(kerbau yang akan disembelih hari ini, hari ketujuh, hari pemakaman, dokpri)

Hari Ketujuh: Kedhe, Kerbau, dan Perpisahan Agung

Maka tibalah hari terakhir. Hari ketujuh. Hari ini. Rencananya pukul 14.00 WITA.

Inilah hari Kedhe (atau Kedde), upacara puncak yang menjadi penutup sekaligus klimaks dari seluruh rangkaian ritual. Bila hari-hari sebelumnya adalah persiapan dan penghormatan, hari ini adalah pelepasan resmi. Hari ini, arwah Ina benar-benar diantarkan ke Parai Marapu, diiringi doa dan persembahan terbesar yang bisa diberikan oleh mereka yang masih hidup.

Dan persembahan terbesar itu adalah seekor kerbau jantan besar.

Mengapa kerbau? Dalam hierarki simbol Marapu, kerbau, terutama kerbau jantan yang besar dan sehat, adalah hewan paling agung. Ia adalah lambang kekayaan, kekuatan, dan martabat. Mempersembahkan kerbau jantan adalah pernyataan tertinggi dari kasih sayang dan penghormatan keluarga kepada almarhumah. Ini mengatakan: "Engkau berharga. Engkau layak mendapat yang terbaik dari kami."

Secara spiritual, darah kerbau yang mengalir di tanah kampung bukan sekadar kematian hewan itu. Ia adalah mata rantai kosmis, penghubung antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat, antara yang masih hidup dan yang sudah menjadi leluhur. Hewan kurban itu dipercaya akan menemani arwah dalam perjalanannya, menjadi bekal dan penjaga di alam yang lain. Imam Marapu memimpin doa-doa panjang atas tubuh kerbau itu, memastikan setiap kata, setiap gerakan ritual dilakukan dengan tepat, karena satu kesalahan dalam prosesi bisa berarti arwah tidak sampai ke tujuan dengan selamat.

Secara sosial, penyembelihan kerbau jantan di hadapan ratusan pelayat dan keluarga juga merupakan pernyataan publik. Ia menegaskan status sosial keluarga, menunjukkan solidaritas klan, dan memperkuat jaringan kekerabatan yang menjadi tulang punggung kehidupan komunal di Sumba. Siapa yang menyumbang, siapa yang hadir, siapa yang mengucapkan kata perpisahan, semua itu dicatat oleh ingatan kolektif komunitas, dan akan menjadi dasar dari hubungan sosial di masa yang akan datang.

Sementara gong ditabuh, jenazah Ina diusung turun dari rumah adat dalam prosesi yang disebut Papapurungu. Irama gong berubah (menjadi lebih cepat, lebih mendesak) menandakan bahwa saat penguburan sudah tiba. Di sepanjang jalan menuju liang kubur, lagu-lagu Sumba dilantunkan. Dan ketika jenazah akhirnya dimasukkan ke dalam kubur batu megalitik, batu besar yang dilubangi, lalu ditutup kembali dengan batu lain, itulah momen paling senyap di antara segala keramaian. Bukan karena tidak ada suara. Justru sebaliknya: dari keheningan batin itu, terasa betapa besar cintanya yang ditinggalkan oleh seorang Ina.

Setelah penguburan selesai, seorang Wunang (juru bicara keluarga) naik ke atas kubur atau tempat yang lebih tinggi. Ia berbicara: menyampaikan isi hati keluarga, mengumumkan hal-hal yang perlu diketahui bersama, dan secara simbolis mengucapkan selamat tinggal yang resmi. Ini adalah Pahewa, momen perpisahan. Dan dengan itu, rangkaian panjang upacara kematian pun selesai.

Kerbau yang akan Dikurbankan oleh Anak-anak untuk Mama Tercinta

Ketika Tradisi Berbicara Lebih Dari Sekadar Adat

Para peneliti dan budayawan yang pernah mendalami tradisi Marapu tidak jarang menemukan diri mereka kagum oleh kedalaman sistem nilai yang terkandung di dalamnya.

Antropolog Clifford Geertz, dalam kerangka analisisnya yang kerap digunakan untuk memahami agama-agama lokal di Indonesia, menyebut bahwa sistem kepercayaan seperti Marapu telah menjadi model of reality sekaligus model for reality bagi masyarakat Sumba, ia tidak hanya mencerminkan bagaimana mereka memahami dunia, tetapi juga membentuk bagaimana mereka menjalani hidup dan menghadapi kematian. Konsepsi tentang Parai Marapu menjadi peta kognitif yang memandu keluarga dalam memuliakan orang yang meninggal, memberikan bekal kubur, dan mempersembahkan hewan kurban.

Peneliti Luh Solihin dalam kajiannya tentang upacara kubur batu di Sumba Timur mencatat bahwa upacara ini diselenggarakan secara kolosal dengan melibatkan jaringan kerabat yang luas, sebuah fakta yang menunjukkan betapa upacara kematian Marapu bukan hanya peristiwa keluarga, melainkan peristiwa komunal yang mempererat jalinan sosial seluruh masyarakat.

Ada yang perlu digarisbawahi di sini: tradisi ini tidak sedang hidup dalam museum. Ia hidup di halaman rumah, di tabuhan gong malam hari, di kata-kata seorang istri yang berdiri di hadapan keluarga besar sambil memegang babi kecil, dan mengatakannya dengan hati yang penuh. Itulah yang membuat tradisi ini tetap relevan: ia berbicara tentang hal-hal yang paling manusiawi, cinta, kehilangan, kenangan, dan harapan bahwa ikatan kita dengan orang-orang tercinta tidak benar-benar putus oleh kematian.

Ina, Pergi dengan Damai

Di ujung tujuh hari tujuh malam itu, ketika Ina akhirnya berangkat ke Parai Marapu, ia tidak pergi sendirian. Ia pergi diiringi doa-doa, dengan bekal kain dan hewan kurban, dengan tangis yang tulus dan kenangan yang hangat. Ia pergi dengan mengetahui bahwa keluarganya, termasuk mereka yang jauh di tanah rantau, telah mempersembahkan yang terbaik dari kemampuan mereka.

Dan suatu hari, ketika keluarga mengadakan Langu Paraingu, pesta negeri dengan mengundang para leluhur hadir kembali melalui doa dan sembahyang, Ina pun akan datang. Bukan dalam wujud jasad. Tapi dalam bentuk berkah, perlindungan, dan kehadiran yang tak terlihat namun terasa.

Sebab di Tanah Humba, kematian bukan akhir dari cerita. Ia hanyalah pergantian babak.

Upacara Kedhe/Kedde dalam tradisi Marapu adalah puncak dari serangkaian ritual kematian yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, diakhiri dengan penyembelihan kerbau jantan dan pemakaman di kubur batu megalitik: sebuah warisan spiritual dari zaman megalitik yang masih hidup hingga hari ini di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4