Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Datang Membawa Hewan, Pulang Membawa Daging dan Kain

28 Juni 2026   13:30 Diperbarui: 28 Juni 2026   19:11 216 9 0

Datang Membawa Hewan, Pulang Membawa Daging dan Kain: Catatan tentang Cara Memandang Perpisahan

Istri saya berdiri di depan ratusan pelayat, mewakili seluruh keluarga sebagai juru bicara adat. Saya hanya bisa membayangkan beratnya dan betapa sakralnya momen itu dari kejauhan.

(istri dengan sarung nagekeo warna kuning bersama saudara-saudara di dekat peti mama, dokpri)
(istri dengan sarung nagekeo warna kuning bersama saudara-saudara di dekat peti mama, dokpri)

Saya dan anak-anak tidak ikut. Kami tetap di Yogyakarta dan seluruh perhatian kami berada di kampung. Itu yang pertama harus saya akui.

Ketika ibu mertua dimakamkan secara adat di Sumba, saya berada jauh hanya menerima kabar lewat pesan singkat, kadang panggilan video yang gambarnya patah-patah karena sinyal tak bersahabat. Tapi dari jarak itu pun, saya bisa merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang berlangsung. Sesuatu yang tidak bisa saya ukur dengan pengalaman saya tentang kematian selama ini.

Istri saya tiba di hari ketiga. Putri dari ibu yang baru saja pergi.

Kampung itu, menurut ceritanya, sudah berubah bahkan sebelum ia tiba. Gong berbunyi siang dan malam, bunyi yang tak berhenti sejak hari pertama kematian, sebagai tanda berduka yang didengar seluruh kampung dan di halaman uma bokul, rumah adat beratap seng (karena sekarang semakin sulit mencari alang-alang) yang menjulang seperti mahkota, orang-orang terus berdatangan. Membawa hewan. Membawa kain.

Istri saya berdiri lama di depan altar Marapu. Altar tempat sesaji, sirih pinang, dan lampu minyak yang nyalanya tak boleh padam diletakkan.

"Ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa berpaling," ia bercerita kepadaku kemudian. "Altar itu bukan sekadar meja kayu. Rasanya seperti ada yang sedang memandang balik dari sana. Seperti leluhur benar-benar hadir, dan kamu sadar bahwa kamu adalah bagian dari rantai panjang yang tidak bisa kamu putus begitu saja."

Babi Hidup yang dibawa oleh para pelayat (undangan khusus)

Hari pemakaman tiba dengan segala kebesarannya. Sesuai hukum adat, pelayat dari pihak saudari perempuan yang sudah kawin wajib membawa hewan seperti kuda, sapi, atau kerbau, sementara pihak saudara laki-laki wajib membawa babi, dan masyarakat umum biasanya membawa kain tenun Sumba. Lima kerbau jantan dan babi-babi dari para pelayat disembelih, dagingnya lalu dibagikan kepada 501 undangan khusus yang pulang dari pemakaman, masing-masing membawa potongan daging (yang beratnya juga berbeda-beda) dan helai kain sebagai tanda mereka telah hadir dan diakui.

Hewan-hewan itu dipercaya sebagai bekal bagi almarhumah untuk menempuh perjalanan panjang menuju alam leluhur. Jumlah dan kualitasnya bukan hal kecil, ini cara keluarga berkata kepada sang ibu: kamu layak mendapat yang terbaik, bahkan di perjalanan terakhirmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3