Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Ratapan perempuan mengiringi hari itu. Istri saya menggambarkannya dengan cara yang tak akan pernah bisa saya susun sendiri:
"Ratapan itu menghipnotisku. Aku tidak mengerti semua kata-katanya, tapi tubuhku mengerti. Ada kesedihan yang sangat tua di sana, kesedihan yang bukan milik kita seorang, tapi milik semua orang yang pernah kehilangan. Dan gong itu (bunyi gong itu) seperti detak jantung yang memastikan kamu tetap hadir, tidak melayang pergi dari kesedihan yang harus kamu rasakan sampai tuntas."
Lalu datanglah hari setelah pemakaman. Hari yang, bagi saya, adalah bagian paling mengharukan dari seluruh cerita ini.
Ketua adat memanggil istri saya. Ia dipercaya untuk berdiri di hadapan lebih dari 500 pelayat sebagai juru bicara keluarga, mewakili semua yang berduka, menyampaikan terima kasih atas setiap langkah kaki yang jauh-jauh datang, setiap hewan yang dibawa, setiap helai kain yang diserahkan.
Ini bukan sekadar sambutan seremonial. Dalam adat Sumba, seorang wunang (juru bicara) yang berdiri mewakili keluarga adalah jabatan yang sarat bobot: ia berbicara menyampaikan isi hati keluarga dan pengumuman kepada seluruh hadirin. Dan kepercayaan itu jatuh kepada istri saya, seorang putri yang baru saja kehilangan ibunya.
Kepercayaan yang mahal, tentu saja. Bukan dalam hitungan uang, melainkan dalam hitungan rasa.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia berdiri di sana, dengan mata yang mungkin masih merah, dengan dada yang mungkin masih berat, lalu membuka suara untuk berterima kasih kepada ratusan orang atas nama keluarga yang sedang berduka. Tapi itulah yang ia lakukan. Dan kata ketua adat, ia melakukannya dengan baik.
Hari-hari berikutnya adalah hari pendinginan, masa berkabung yang perlahan mereda, namun belum selesai. Baru di hari keenam, seekor babi (babi yang kami bawa dari keluarga kecil kami) disembelih dalam acara makan bersama penutup masa berkabung. Ini berbeda dari penyembelihan hewan-hewan besar di hari pemakaman. Dalam acara penutup ini, dipotong babi untuk dimakan bersama, dan keluarga menyampaikan ucapan terima kasih atas kebersamaan dan gotong royong selama prosesi berlangsung. Kontribusi kami yang kecil itu menemukan tempatnya di sini, bukan sebagai persembahan untuk arwah, melainkan sebagai bagian dari ikatan antara yang masih hidup: cara kami berkata kepada kampung, kami ada, kami turut menanggung.
Sebagai balasannya, keluarga kecil kami mendapat bagian: empat lembar sarung dan kain. Setiap pemberian dalam adat ini memiliki nilai sosial yang harus dibalas, keluarga berkewajiban mengembalikan pemberian itu dengan nilai setara, langsung maupun kelak di kemudian hari. Ini bukan hutang yang mencekik. Ini adalah jaringan kasih yang menjaga komunitas tetap hidup satu sama lain, lintas generasi.
Saat kain-kain itu sampai ke tangan saya, ada bobot yang tak terukur di dalamnya. Bukan berat fisiknya, melainkan berat semua yang telah terjadi tanpa kehadiran saya: hari ketiga hingga hari ketujuh, gong yang tak pernah berhenti, ratapan yang menghipnotis, altar yang memandang balik, dan seorang istri yang berdiri sendirian mewakili duka keluarganya di depan ratusan orang.