Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Malam terakhir, bunyi gong dihentikan, dan keluarga melakukan upacara mengantar arwah ke negeri tujuan. Kampung menjadi sunyi dengan cara yang berbeda dari sunyi biasa, sunyi yang terasa penuh, bukan kosong.
Istri saya pulang beberapa hari kemudian. Lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang tenang.
"Orang kota sering bilang tradisi seperti ini terlalu boros, terlalu mahal, terlalu lama," ia berkata di perjalanan pulang. "Tapi mereka tidak tahu rasanya berdiri di dekat altar Marapu itu. Tidak ada yang 'terlalu' di sana. Semua pas. Ina layak mendapat itu semua."
Meski mayoritas masyarakat Sumba kini menganut agama Protestan dan Katolik (bahkan semua anak Ama dan Ina, sekandung dengan istri saya semuanya Katolik), tradisi Marapu tetap hidup dan berjalan berdampingan, mengakar jauh melampaui batas keyakinan formal. Dan mungkin memang begitu seharusnya. Karena ada hal-hal yang lebih tua dari agama mana pun, yaitu keinginan manusia untuk berkata kepada yang dicintai: kamu tidak pergi sendirian. Kami antar kamu sejauh yang kami bisa.
Di Sumba, sejauh itu ternyata sangat jauh. Dan sangat indah.
Kain-kain itu kini tersimpan di lemari kami. Dan setiap kali dibuka, saya merasa seperti menyentuh sebuah hari yang tidak saya hadiri, tapi entah bagaimana, tetap membentuk saya.
NB. Melestarikan budaya adalah salah satu cara membangun desa agar tetap utuh. Ilmu dan teknologi boleh maju, warisan nenek moyang harus tetap dilestarikan. Ibulah kebudayaan. Itulah peradaban.