Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Istri saya berdiri di depan ratusan pelayat, mewakili seluruh keluarga sebagai juru bicara adat. Saya hanya bisa membayangkan beratnya dan betapa sakralnya momen itu dari kejauhan.

Saya dan anak-anak tidak ikut. Kami tetap di Yogyakarta dan seluruh perhatian kami berada di kampung. Itu yang pertama harus saya akui.
Ketika ibu mertua dimakamkan secara adat di Sumba, saya berada jauh hanya menerima kabar lewat pesan singkat, kadang panggilan video yang gambarnya patah-patah karena sinyal tak bersahabat. Tapi dari jarak itu pun, saya bisa merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang berlangsung. Sesuatu yang tidak bisa saya ukur dengan pengalaman saya tentang kematian selama ini.
Istri saya tiba di hari ketiga. Putri dari ibu yang baru saja pergi.
Kampung itu, menurut ceritanya, sudah berubah bahkan sebelum ia tiba. Gong berbunyi siang dan malam, bunyi yang tak berhenti sejak hari pertama kematian, sebagai tanda berduka yang didengar seluruh kampung dan di halaman uma bokul, rumah adat beratap seng (karena sekarang semakin sulit mencari alang-alang) yang menjulang seperti mahkota, orang-orang terus berdatangan. Membawa hewan. Membawa kain.
Istri saya berdiri lama di depan altar Marapu. Altar tempat sesaji, sirih pinang, dan lampu minyak yang nyalanya tak boleh padam diletakkan.
"Ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa berpaling," ia bercerita kepadaku kemudian. "Altar itu bukan sekadar meja kayu. Rasanya seperti ada yang sedang memandang balik dari sana. Seperti leluhur benar-benar hadir, dan kamu sadar bahwa kamu adalah bagian dari rantai panjang yang tidak bisa kamu putus begitu saja."
Hari pemakaman tiba dengan segala kebesarannya. Sesuai hukum adat, pelayat dari pihak saudari perempuan yang sudah kawin wajib membawa hewan seperti kuda, sapi, atau kerbau, sementara pihak saudara laki-laki wajib membawa babi, dan masyarakat umum biasanya membawa kain tenun Sumba. Lima kerbau jantan dan babi-babi dari para pelayat disembelih, dagingnya lalu dibagikan kepada 501 undangan khusus yang pulang dari pemakaman, masing-masing membawa potongan daging (yang beratnya juga berbeda-beda) dan helai kain sebagai tanda mereka telah hadir dan diakui.
Hewan-hewan itu dipercaya sebagai bekal bagi almarhumah untuk menempuh perjalanan panjang menuju alam leluhur. Jumlah dan kualitasnya bukan hal kecil, ini cara keluarga berkata kepada sang ibu: kamu layak mendapat yang terbaik, bahkan di perjalanan terakhirmu.
Ratapan perempuan mengiringi hari itu. Istri saya menggambarkannya dengan cara yang tak akan pernah bisa saya susun sendiri:
"Ratapan itu menghipnotisku. Aku tidak mengerti semua kata-katanya, tapi tubuhku mengerti. Ada kesedihan yang sangat tua di sana, kesedihan yang bukan milik kita seorang, tapi milik semua orang yang pernah kehilangan. Dan gong itu (bunyi gong itu) seperti detak jantung yang memastikan kamu tetap hadir, tidak melayang pergi dari kesedihan yang harus kamu rasakan sampai tuntas."
Lalu datanglah hari setelah pemakaman. Hari yang, bagi saya, adalah bagian paling mengharukan dari seluruh cerita ini.
Ketua adat memanggil istri saya. Ia dipercaya untuk berdiri di hadapan lebih dari 500 pelayat sebagai juru bicara keluarga, mewakili semua yang berduka, menyampaikan terima kasih atas setiap langkah kaki yang jauh-jauh datang, setiap hewan yang dibawa, setiap helai kain yang diserahkan.
Ini bukan sekadar sambutan seremonial. Dalam adat Sumba, seorang wunang (juru bicara) yang berdiri mewakili keluarga adalah jabatan yang sarat bobot: ia berbicara menyampaikan isi hati keluarga dan pengumuman kepada seluruh hadirin. Dan kepercayaan itu jatuh kepada istri saya, seorang putri yang baru saja kehilangan ibunya.
Kepercayaan yang mahal, tentu saja. Bukan dalam hitungan uang, melainkan dalam hitungan rasa.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia berdiri di sana, dengan mata yang mungkin masih merah, dengan dada yang mungkin masih berat, lalu membuka suara untuk berterima kasih kepada ratusan orang atas nama keluarga yang sedang berduka. Tapi itulah yang ia lakukan. Dan kata ketua adat, ia melakukannya dengan baik.
Hari-hari berikutnya adalah hari pendinginan, masa berkabung yang perlahan mereda, namun belum selesai. Baru di hari keenam, seekor babi (babi yang kami bawa dari keluarga kecil kami) disembelih dalam acara makan bersama penutup masa berkabung. Ini berbeda dari penyembelihan hewan-hewan besar di hari pemakaman. Dalam acara penutup ini, dipotong babi untuk dimakan bersama, dan keluarga menyampaikan ucapan terima kasih atas kebersamaan dan gotong royong selama prosesi berlangsung. Kontribusi kami yang kecil itu menemukan tempatnya di sini, bukan sebagai persembahan untuk arwah, melainkan sebagai bagian dari ikatan antara yang masih hidup: cara kami berkata kepada kampung, kami ada, kami turut menanggung.
Sebagai balasannya, keluarga kecil kami mendapat bagian: empat lembar sarung dan kain. Setiap pemberian dalam adat ini memiliki nilai sosial yang harus dibalas, keluarga berkewajiban mengembalikan pemberian itu dengan nilai setara, langsung maupun kelak di kemudian hari. Ini bukan hutang yang mencekik. Ini adalah jaringan kasih yang menjaga komunitas tetap hidup satu sama lain, lintas generasi.
Saat kain-kain itu sampai ke tangan saya, ada bobot yang tak terukur di dalamnya. Bukan berat fisiknya, melainkan berat semua yang telah terjadi tanpa kehadiran saya: hari ketiga hingga hari ketujuh, gong yang tak pernah berhenti, ratapan yang menghipnotis, altar yang memandang balik, dan seorang istri yang berdiri sendirian mewakili duka keluarganya di depan ratusan orang.

Malam terakhir, bunyi gong dihentikan, dan keluarga melakukan upacara mengantar arwah ke negeri tujuan. Kampung menjadi sunyi dengan cara yang berbeda dari sunyi biasa, sunyi yang terasa penuh, bukan kosong.
Istri saya pulang beberapa hari kemudian. Lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang tenang.
"Orang kota sering bilang tradisi seperti ini terlalu boros, terlalu mahal, terlalu lama," ia berkata di perjalanan pulang. "Tapi mereka tidak tahu rasanya berdiri di dekat altar Marapu itu. Tidak ada yang 'terlalu' di sana. Semua pas. Ina layak mendapat itu semua."
Meski mayoritas masyarakat Sumba kini menganut agama Protestan dan Katolik (bahkan semua anak Ama dan Ina, sekandung dengan istri saya semuanya Katolik), tradisi Marapu tetap hidup dan berjalan berdampingan, mengakar jauh melampaui batas keyakinan formal. Dan mungkin memang begitu seharusnya. Karena ada hal-hal yang lebih tua dari agama mana pun, yaitu keinginan manusia untuk berkata kepada yang dicintai: kamu tidak pergi sendirian. Kami antar kamu sejauh yang kami bisa.
Di Sumba, sejauh itu ternyata sangat jauh. Dan sangat indah.
Kain-kain itu kini tersimpan di lemari kami. Dan setiap kali dibuka, saya merasa seperti menyentuh sebuah hari yang tidak saya hadiri, tapi entah bagaimana, tetap membentuk saya.
NB. Melestarikan budaya adalah salah satu cara membangun desa agar tetap utuh. Ilmu dan teknologi boleh maju, warisan nenek moyang harus tetap dilestarikan. Ibulah kebudayaan. Itulah peradaban.