Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sirih Pinang untuk Ina yang Sudah Pergi

4 Juli 2026   08:19 Diperbarui: 4 Juli 2026   09:19 269 11 0

Sirih Pinang untuk Ina yang Sudah Pergi

 

Enam puluh tahun bersama tidak cukup untuk membuat seorang suami berhenti menyediakan tempat bagi istrinya, bahkan setelah maut menjemput.

(Ama dikelilingi anak-anaknya yang datang dari Batam, Jakarta, Yogyakarta dan Malang, dokpri)
(Ama dikelilingi anak-anaknya yang datang dari Batam, Jakarta, Yogyakarta dan Malang, dokpri)

Di minggu pagi yang dingin itu, separuh jiwa Ama pergi.

Bukan secara kiasan. Bukan ungkapan basa-basi belasungkawa. Benar-benar separuh, karena setelah lebih dari enam puluh tahun hidup berdampingan, seseorang bersama pasangannya sudah tidak bisa dipisahkan sebagai dua manusia yang utuh sendiri-sendiri. Mereka telah menjadi satu cara bernapas, satu ritme tidur dan bangun, satu kebiasaan berbagi sirih pinang di pagi hari.

Dan pagi itu, Ina Wini pergi. Meninggalkan separuh yang lain sendirian.

Parang di Pinggang, Air Mata di Pipi

Dua hari pertama, Ama belum menerima kenyataan itu.

Siapa yang bisa menyalahkannya? Enam puluh tahun lebih adalah waktu yang sangat panjang untuk mengajarkan tubuh dan jiwa bahwa ada seseorang yang selalu ada. Bahwa suara itu akan selalu terdengar. Bahwa tangan itu akan selalu bisa diraih. Dan tiba-tiba (di minggu pagi yang dingin, tanpa permisi yang terasa cukup) semuanya berhenti.

Air mata Ama mengalir bersama para pelayat dan peratap. Bersama anak-anak. Bersama cucu-cucu. Sudah tak terhitung berapa banyak.

Tapi ada satu momen yang tak akan bisa dilupakan oleh siapapun yang menyaksikannya.

Ketika hari pemakaman tiba, Ama (dengan gerak fisik yang sudah terbatas oleh usia yang sangat lanjut) berpakaian lengkap adat Sumba. Kain tenun terikat rapi. Dan di pinggangnya, tergantung sebuah parang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4