Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sirih Pinang untuk Ina yang Sudah Pergi

4 Juli 2026   08:19 Diperbarui: 4 Juli 2026   09:19 264 10 0

Tapi Ama masih menyediakan sirih pinang untuk Ina.

Setiap pagi. Di tempat yang sama. Dengan tangan yang sama yang sudah ribuan kali melakukan hal yang sama selama enam puluh tahun lebih. Sirih pinang itu bukan simbol. Bukan ritual kosong.

Bagi Ama, sang imam Marapu, yang seluruh hidupnya memahami bahwa batas antara yang hidup dan yang telah pergi jauh lebih tipis dari yang kebanyakan orang kira, Ina masih ada. Masih bisa diajak bicara. Masih mendengar.

Dan Ama masih sering mengajaknya berbicara. Meski tidak ada jawaban yang bisa didengar telinga biasa.

Tapi bagi Ama, ada jawaban. Ada obrolan. Ada Ina yang masih hadir, di dalam kepercayaan yang sudah ia pegang seumur hidup, di dalam keyakinan bahwa kematian hanyalah perpindahan, bukan perpisahan.

"Orang Sumba percaya bahwa roh nenek moyang ikut menghadiri upacara penguburan," demikian keyakinan yang mengakar di tanah ini. Dan jika roh bisa hadir di upacara, mengapa tidak bisa hadir pula di pagi-pagi sepi, di depan sirih pinang yang masih disiapkan dengan tangan yang gemetar?

Cinta yang Tidak Membutuhkan Kehadiran Fisik

Di kota-kota tempat anak dan cucu kini berada, mungkin ada yang sesekali bertanya-tanya: bagaimana keadaan Ama? Apakah ia baik-baik saja?

Jawabannya mungkin tidak sederhana. Ia tidak baik-baik saja dalam arti kehilangan tidak meninggalkan bekas. Tapi ia juga tidak hancur, karena Ama adalah lelaki yang hidupnya dibangun di atas kepercayaan yang lebih kokoh dari kesedihan: bahwa Ina hanya pergi ke tempat yang berbeda, bahwa percakapan mereka belum selesai, bahwa sirih pinang yang disiapkan setiap pagi adalah benang tipis yang masih menghubungkan dua jiwa yang sudah menjadi satu selama lebih dari enam puluh tahun.

Kesetiaan seperti ini tidak diajarkan di sekolah manapun. Tidak bisa dibeli atau dipelajari dari buku. Ia tumbuh perlahan, dalam keseharian yang sederhana, dalam sirih pinang yang dibagi, dalam perjalanan panjang yang ditempuh bersama, dalam janji yang diucapkan dan dipegang bahkan ketika salah satu sudah tidak bisa lagi mendengarnya dengan telinga.

Atau mungkin (menurut Ama) masih bisa.

Tujuh hari sejak pemakaman. Empat belas hari sejak minggu pagi yang dingin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4