Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Enam puluh tahun bersama tidak cukup untuk membuat seorang suami berhenti menyediakan tempat bagi istrinya, bahkan setelah maut menjemput.

Di minggu pagi yang dingin itu, separuh jiwa Ama pergi.
Bukan secara kiasan. Bukan ungkapan basa-basi belasungkawa. Benar-benar separuh, karena setelah lebih dari enam puluh tahun hidup berdampingan, seseorang bersama pasangannya sudah tidak bisa dipisahkan sebagai dua manusia yang utuh sendiri-sendiri. Mereka telah menjadi satu cara bernapas, satu ritme tidur dan bangun, satu kebiasaan berbagi sirih pinang di pagi hari.
Dan pagi itu, Ina Wini pergi. Meninggalkan separuh yang lain sendirian.
Dua hari pertama, Ama belum menerima kenyataan itu.
Siapa yang bisa menyalahkannya? Enam puluh tahun lebih adalah waktu yang sangat panjang untuk mengajarkan tubuh dan jiwa bahwa ada seseorang yang selalu ada. Bahwa suara itu akan selalu terdengar. Bahwa tangan itu akan selalu bisa diraih. Dan tiba-tiba (di minggu pagi yang dingin, tanpa permisi yang terasa cukup) semuanya berhenti.
Air mata Ama mengalir bersama para pelayat dan peratap. Bersama anak-anak. Bersama cucu-cucu. Sudah tak terhitung berapa banyak.
Tapi ada satu momen yang tak akan bisa dilupakan oleh siapapun yang menyaksikannya.
Ketika hari pemakaman tiba, Ama (dengan gerak fisik yang sudah terbatas oleh usia yang sangat lanjut) berpakaian lengkap adat Sumba. Kain tenun terikat rapi. Dan di pinggangnya, tergantung sebuah parang.
Ia ronggeng (menari) untuk istrinya yang tercinta.
Ronggeng untuk Istri Tercinta, Ina yang kami sayangi
Tubuh yang sudah sepuh itu bergerak dalam balutan adat, dalam kehormatan, dalam cinta yang tidak tahu bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal selain dengan memberikan yang paling indah yang ia punya: dirinya sendiri, sepenuhnya hadir, sepenuhnya berpakaian, sepenuhnya seorang suami yang menepati janji.
Tidak ada kata yang cukup untuk adegan itu. Tidak ada.
Rupanya Ama pernah berjanji.
Jika sang istri pergi lebih dulu, ia akan memestakan kepergiannya. Memastikan bahwa Ina Wini berangkat dengan layak, dengan hormat, dengan kebesaran yang setara dengan cinta mereka yang telah dirawat selama enam dekade lebih. Enam kerbau jantan. Enam ekor babi jantan dan satu ekor babi betina. Belum termasuk yang tiap malam untuk memberi makan para pelayat. Lima ratus satu pelayat yang datang membawa hewan dan kain, pulang membawa daging dan sarung. Seorang putri yang berdiri di depan ratusan orang sebagai juru bicara keluarga, berterima kasih atas setiap kehadiran.
Semua itu adalah janji yang dipegang teguh.
Dalam adat Sumba, janji bukan sekadar kata. Ia adalah kontrak antara yang hidup dan leluhur, antara manusia dan Marapu, antara suami dan istri yang saling menyaksikan hidup satu sama lain hingga salah satunya harus pergi lebih dulu. Ama, sang imam Marapu, tahu betul bobot dari sebuah janji yang diucapkan.
Dan ia memenuhinya, dengan parang di pinggang dan air mata di pipi, dengan tubuh yang sudah tidak sekuat dulu tapi jiwa yang tidak pernah goyah.
Hari-hari berlalu setelah pemakaman. Tujuh hari. Empat belas hari sejak minggu pagi yang dingin itu.
Anak-anak dan cucu-cucu sudah kembali ke medan hidup masing-masing ke Bali, Surabaya, Malang, Jakarta, Batam. Kehidupan memanggil mereka kembali dengan segala urgensinya yang tidak bisa ditunda. Kampung kembali ke ritmenya yang lebih pelan. Gong sudah lama berhenti berbunyi.
Tapi Ama masih menyediakan sirih pinang untuk Ina.
Setiap pagi. Di tempat yang sama. Dengan tangan yang sama yang sudah ribuan kali melakukan hal yang sama selama enam puluh tahun lebih. Sirih pinang itu bukan simbol. Bukan ritual kosong.
Bagi Ama, sang imam Marapu, yang seluruh hidupnya memahami bahwa batas antara yang hidup dan yang telah pergi jauh lebih tipis dari yang kebanyakan orang kira, Ina masih ada. Masih bisa diajak bicara. Masih mendengar.
Dan Ama masih sering mengajaknya berbicara. Meski tidak ada jawaban yang bisa didengar telinga biasa.
Tapi bagi Ama, ada jawaban. Ada obrolan. Ada Ina yang masih hadir, di dalam kepercayaan yang sudah ia pegang seumur hidup, di dalam keyakinan bahwa kematian hanyalah perpindahan, bukan perpisahan.
"Orang Sumba percaya bahwa roh nenek moyang ikut menghadiri upacara penguburan," demikian keyakinan yang mengakar di tanah ini. Dan jika roh bisa hadir di upacara, mengapa tidak bisa hadir pula di pagi-pagi sepi, di depan sirih pinang yang masih disiapkan dengan tangan yang gemetar?
Di kota-kota tempat anak dan cucu kini berada, mungkin ada yang sesekali bertanya-tanya: bagaimana keadaan Ama? Apakah ia baik-baik saja?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Ia tidak baik-baik saja dalam arti kehilangan tidak meninggalkan bekas. Tapi ia juga tidak hancur, karena Ama adalah lelaki yang hidupnya dibangun di atas kepercayaan yang lebih kokoh dari kesedihan: bahwa Ina hanya pergi ke tempat yang berbeda, bahwa percakapan mereka belum selesai, bahwa sirih pinang yang disiapkan setiap pagi adalah benang tipis yang masih menghubungkan dua jiwa yang sudah menjadi satu selama lebih dari enam puluh tahun.
Kesetiaan seperti ini tidak diajarkan di sekolah manapun. Tidak bisa dibeli atau dipelajari dari buku. Ia tumbuh perlahan, dalam keseharian yang sederhana, dalam sirih pinang yang dibagi, dalam perjalanan panjang yang ditempuh bersama, dalam janji yang diucapkan dan dipegang bahkan ketika salah satu sudah tidak bisa lagi mendengarnya dengan telinga.
Atau mungkin (menurut Ama) masih bisa.
Tujuh hari sejak pemakaman. Empat belas hari sejak minggu pagi yang dingin.
Di sudut kampung Pameruka, Sumba Barat Daya, lelaki tua yang sangat sepuh masih menyediakan sirih pinang untuk perempuan yang sudah pergi. Masih mengajaknya bicara. Masih percaya bahwa ia didengar.
Dan mungkin itulah cinta yang sesungguhnya, bukan yang berakhir ketika maut datang, melainkan yang menemukan cara baru untuk tetap setia, bahkan sesudahnya.
Selamat jalan, Ina Wini. Sirih pinangmu masih menunggu.
Ditulis tujuh hari setelah pemakaman, empat belas hari setelah kepergian, dari jauh, dengan rasa hormat yang dalam.