Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sirih Pinang untuk Ina yang Sudah Pergi

4 Juli 2026   08:19 Diperbarui: 4 Juli 2026   09:19 262 10 0

Ia ronggeng (menari) untuk istrinya yang tercinta.

Ronggeng untuk Istri Tercinta, Ina yang kami sayangi

Tubuh yang sudah sepuh itu bergerak dalam balutan adat, dalam kehormatan, dalam cinta yang tidak tahu bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal selain dengan memberikan yang paling indah yang ia punya: dirinya sendiri, sepenuhnya hadir, sepenuhnya berpakaian, sepenuhnya seorang suami yang menepati janji.

Tidak ada kata yang cukup untuk adegan itu. Tidak ada.

Janji yang Diucapkan Sebelum Maut

Rupanya Ama pernah berjanji.

Jika sang istri pergi lebih dulu, ia akan memestakan kepergiannya. Memastikan bahwa Ina Wini berangkat dengan layak, dengan hormat, dengan kebesaran yang setara dengan cinta mereka yang telah dirawat selama enam dekade lebih. Enam kerbau jantan. Enam ekor babi jantan dan satu ekor babi betina. Belum termasuk yang tiap malam untuk memberi makan para pelayat. Lima ratus satu pelayat yang datang membawa hewan dan kain, pulang membawa daging dan sarung. Seorang putri yang berdiri di depan ratusan orang sebagai juru bicara keluarga, berterima kasih atas setiap kehadiran.

Semua itu adalah janji yang dipegang teguh.

Dalam adat Sumba, janji bukan sekadar kata. Ia adalah kontrak antara yang hidup dan leluhur, antara manusia dan Marapu, antara suami dan istri yang saling menyaksikan hidup satu sama lain hingga salah satunya harus pergi lebih dulu. Ama, sang imam Marapu, tahu betul bobot dari sebuah janji yang diucapkan.

Dan ia memenuhinya, dengan parang di pinggang dan air mata di pipi, dengan tubuh yang sudah tidak sekuat dulu tapi jiwa yang tidak pernah goyah.

Sirih Pinang yang Masih Disiapkan

Hari-hari berlalu setelah pemakaman. Tujuh hari. Empat belas hari sejak minggu pagi yang dingin itu.

Anak-anak dan cucu-cucu sudah kembali ke medan hidup masing-masing  ke Bali, Surabaya, Malang, Jakarta, Batam. Kehidupan memanggil mereka kembali dengan segala urgensinya yang tidak bisa ditunda. Kampung kembali ke ritmenya yang lebih pelan. Gong sudah lama berhenti berbunyi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4