Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Pagi itu pukul tujuh, halaman sekolah sudah penuh dengan antusiasme. Setelah menyanyi bersama, mereka melangkah masuk ke masjid untuk berdoa bagi para murid Muslim dan ke perpustakaan bagi murid-murid Kristen.
Mereka mengawali hari dengan menyelaraskan hati, sesuatu yang selalu menjadi permulaan setiap langkah yang baik di sini. Tak lama kemudian, suasana mencair lewat permainan seru, di mana siswa baru saling mengenal nama dan senyum tanpa rasa canggung.

Setelah pengondisian suasana, Pak Galang Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, tampil di hadapan siswa baru. Ia memaparkan visi dan misi SMK Kesehatan Binatama dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami, mengajak para siswa untuk menyelaraskan cita-cita pribadi dengan tujuan sekolah.
Tak berhenti di situ, Pak Galang juga memandu siswa dalam pengisian akun pribadi sekolah, langkah pertama agar mereka terhubung dengan sistem pembelajaran dan informasi yang akan mereka butuhkan selama bersekolah.
Suasana menjadi hangat saat sesi pengenalan visi-misi sekolah, sosialisasi budaya kerja K3 dan 5R, serta pengenalan ekstrakurikuler seperti Farmapreneur dan Nerspreneur. Para siswa pun berpartisipasi aktif dalam kuis kesehatan mental, penyuluhan tertib berlalu lintas dari Ditlantas Polda DIY, hingga kampanye anti-perundungan siber dari Polsek Mlati.
Setiap sesi membawa pesan yang sama: kedisiplinan, kehati-hatian, dan kepedulian adalah bagian tak terpisahkan dari diri calon tenaga kesehatan. Hari pun ditutup dengan refleksi bersama, merangkum apa yang telah dipelajari untuk dibawa ke langkah selanjutnya.
Jika siswa baru berada di ruangan yang lebih luas, maka di ruang lain, siswa kelas XII gabungan Keperawatan dan Farmasi tengah terpukau. Di depan mereka berdiri sosok yang lincah dan bicaranya mengalir indah: Ibu Bening Saraswati atau yang aslinya bernama Sulis Setyaningsih, S.Kom., M.Ikom., pengajar di Balai Komdik serta dosen di Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia tak sekadar mengajarkan cara berbicara lantang atau tak gemetar di depan umum. Ibu Bening menanamkan satu pesan mendalam: "Bagi kalian calon tenaga kesehatan, kemampuan berbicara bukan bakat tambahan. Ini adalah alat utama kalian. Kalian akan berhadapan dengan orang yang sedang sakit, cemas, atau sedih. Cara kalian menyampaikan pesan bisa menjadi penenang, bahkan menjadi bagian dari kesembuhan mereka."
