Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Cahaya matahari Rabu pagi, 15 Juli 2026, baru saja menyentuh atap SMK Kesehatan Binatama. Ratusan suara bersahutan, menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang, lalu beralih ke Himne SMK Kesehatan Binatama yang berdenyut semangat dan diakhiri dengan senam sehat bersama yang dipimpin oleh kakak-kakak anggota OSIS.
Bagi para siswa baru, ini bukan sekadar pembuka hari biasa. Ini adalah awal dari perjalanan membentuk diri: menjadi pribadi yang sehat raga dan jiwa, berpegang teguh pada nilai bangsa, peka pada alam, bangga pada budaya sendiri, dan siap menyapa dunia tanpa melupakan asal-usulnya. Inilah napas MPLS hari keempat, sebuah kisah tentang bagaimana ilmu, karakter, dan hati disatukan untuk menumbuhkan calon tenaga kesehatan yang tak hanya pandai, tapi juga berkelas sebagai manusia.

Tema besar MPLS, "Mewujudkan Generasi Sehat, Berkarakter Kebangsaan, Peduli Lingkungan, Berbudaya dan Mendunia", bukan sekadar rangkaian kata indah di spanduk sekolah. Ia adalah cermin dari hakikat pendidikan yang sesungguhnya: membentuk manusia secara utuh, bukan hanya melatih tangan dan pikiran.
Kesehatan adalah fondasi pertama. Bagaimana kita bisa merawat orang lain jika diri sendiri belum kokoh? Sehat raga memberi kekuatan untuk beramal, sehat jiwa memberi kejernihan untuk memutuskan dan kelembutan untuk melayani.
Lalu karakter kebangsaan mengingatkan kita: kita bukan individu yang berjalan sendiri. Setiap ilmu yang kita pelajari, setiap kebaikan yang kita berikan, adalah bagian dari pengabdian pada tanah air yang sama.
Peduli lingkungan mengajarkan kita bahwa kita tak terpisahkan dari alam, menjaga kebersihan, merawat bumi, sama dengan menjaga sumber kehidupan dan kesehatan masyarakat.
Berbudaya adalah akar yang menjaga kita tak tersapu arus zaman: meski kita berjalan jauh ke mana pun, kita tetap tahu siapa kita dan dari mana kita berasal.
Dan mendunia adalah sayapnya: kita terbuka pada kemajuan zaman, siap bersaing dan berkontribusi sejajar dengan siapa pun, sambil tetap membawa nama baik bangsa.
Dalam praktiknya di sekolah, makna ini tak disampaikan lewat ceramah kaku semata. Ia ditenun ke dalam setiap kegiatan: dari cara menyapa teman baru, sikap saat beribadah, hingga kesadaran bahwa menjaga lingkungan sekolah adalah bagian dari tugas calon tenaga kesehatan. Semua disusun agar siswa tak hanya menghafal, tapi merasakan dan menjadikannya jalan hidup.

Pagi itu pukul tujuh, halaman sekolah sudah penuh dengan antusiasme. Setelah menyanyi bersama, mereka melangkah masuk ke masjid untuk berdoa bagi para murid Muslim dan ke perpustakaan bagi murid-murid Kristen.
Mereka mengawali hari dengan menyelaraskan hati, sesuatu yang selalu menjadi permulaan setiap langkah yang baik di sini. Tak lama kemudian, suasana mencair lewat permainan seru, di mana siswa baru saling mengenal nama dan senyum tanpa rasa canggung.

Setelah pengondisian suasana, Pak Galang Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, tampil di hadapan siswa baru. Ia memaparkan visi dan misi SMK Kesehatan Binatama dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami, mengajak para siswa untuk menyelaraskan cita-cita pribadi dengan tujuan sekolah.
Tak berhenti di situ, Pak Galang juga memandu siswa dalam pengisian akun pribadi sekolah, langkah pertama agar mereka terhubung dengan sistem pembelajaran dan informasi yang akan mereka butuhkan selama bersekolah.
Suasana menjadi hangat saat sesi pengenalan visi-misi sekolah, sosialisasi budaya kerja K3 dan 5R, serta pengenalan ekstrakurikuler seperti Farmapreneur dan Nerspreneur. Para siswa pun berpartisipasi aktif dalam kuis kesehatan mental, penyuluhan tertib berlalu lintas dari Ditlantas Polda DIY, hingga kampanye anti-perundungan siber dari Polsek Mlati.
Setiap sesi membawa pesan yang sama: kedisiplinan, kehati-hatian, dan kepedulian adalah bagian tak terpisahkan dari diri calon tenaga kesehatan. Hari pun ditutup dengan refleksi bersama, merangkum apa yang telah dipelajari untuk dibawa ke langkah selanjutnya.
Jika siswa baru berada di ruangan yang lebih luas, maka di ruang lain, siswa kelas XII gabungan Keperawatan dan Farmasi tengah terpukau. Di depan mereka berdiri sosok yang lincah dan bicaranya mengalir indah: Ibu Bening Saraswati atau yang aslinya bernama Sulis Setyaningsih, S.Kom., M.Ikom., pengajar di Balai Komdik serta dosen di Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia tak sekadar mengajarkan cara berbicara lantang atau tak gemetar di depan umum. Ibu Bening menanamkan satu pesan mendalam: "Bagi kalian calon tenaga kesehatan, kemampuan berbicara bukan bakat tambahan. Ini adalah alat utama kalian. Kalian akan berhadapan dengan orang yang sedang sakit, cemas, atau sedih. Cara kalian menyampaikan pesan bisa menjadi penenang, bahkan menjadi bagian dari kesembuhan mereka."

Dengan gaya yang santai namun penuh makna, ia memandu mereka membangun rasa percaya diri, menyusun kalimat yang mudah dipahami, dan menyampaikan informasi medis dengan penuh empati.
Penanganan yang tepat belum cukup jika tak didukung dengan penjelasan yang hangat dan meyakinkan. Lewat sesi ini, para siswa sadar: kemampuan berkomunikasi adalah jembatan yang menghubungkan ilmu dengan hati manusia.
Bu Bening, begitu nama panggung kalau ia menjadi MC, atau nama yang akrab di telinga pendengar JBRadio Balai Tekkomendik DIY, langsung memberikan praktik kepada beberapa murid yang ditunjuk secara acak. Cara-cara spontan semacam itu memberikan keyakinan kepada murid untuk lebih berani dan menguasai "audiens" yang adalah teman sebayanya.
MPLS hari ketiga ini adalah satu keping kisah kecil yang bermakna besar. Di sini, cinta tanah air tumbuh beriringan dengan kepedulian pada sesama; kecintaan pada budaya berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi dunia; dan ilmu kesehatan dipadukan dengan kemampuan berbicara dan berkarakter.
Nilai-nilai ini takkan berhenti saat kegiatan selesai. Ia akan tertanam, tumbuh, dan mekar saat ia kelak berdiri di samping tempat tidur pasien, berbicara di ruang rapat, atau berinteraksi dengan siapa saja.
Mereka adalah generasi yang sehat badannya, kokoh karakternya, luas pandangannya, siap membawa nama bangsa, budaya, dan profesi kesehatan Indonesia ke mana pun kaki melangkah.