Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Yang menarik, semua peserta, termasuk para instruktur, mendapatkan hadiah yang sama: wajah yang dilumuri bedak basah yang hampir menyaingi manusia silver di perempatan lampu merah.
(video dibuat oleh tim tour guide)
Siang berganti sore, rombongan melaju menuju Sky Hills Kemuning. Di sana, jembatan kaca yang menjulang tinggi menanti untuk menguji keberanian masing-masing. Setiap langkah di atas permukaan bening itu membawa rasa campur aduk: penasaran, takut, namun juga takjub.
Di sela-sela kekhawatiran akan kekuatan dan keamanan jembatan itu, mata kami dimanjakan oleh hamparan perkebunan teh yang hijau membentang, berpadu dengan keindahan pegunungan yang berkelok.
Angin sepoi-sepoi seolah mengajak kami melangkah maju, meyakinkan kami bahwa apa yang tampak menakutkan sering kali menyimpan keindahan luar biasa jika kita berani menjalaninya.
Belum selesai rasa takjub di jembatan kaca, puncak keseruan sesungguhnya baru dimulai. Sebelas jeep terbuka sudah bersiap membawa kami menembus jalan berbatu, berlumpur, hingga menyusuri aliran sungai. Setiap kali kendaraan mencebur ke dalam air yang deras, percikan segar menyapa seluruh penumpang, disambut sorak-sorai yang tak henti.
Di sela gemuruh mesin, saya sempat berbincang dengan salah satu pengemudi jeep. "Senang sekali rasanya melihat kembali banyak orang berdatangan ke sini," ujarnya dengan wajah berseri.
"Dulu saat pandemi, jalanan ini sepi sekali. Kami tak punya penghasilan. Kini, setiap akhir pekan dan hari libur, rombongan wisata seperti Bapak Ibu datang berkunjung. Rezeki mulai mengalir kembali, warung makan, penjual oleh-oleh, kami para pengemudi, semua mulai bernapas lega. Wisata ini bukan sekadar hiburan, tapi darah bagi kehidupan kami." Ujarnya setelah mengantar kami ke terminal bus sembari mengakhiri perjalanan susur sungai dan lumpur yang menegangkan dan penuh kegembiraan.
Kata-kata sederhana itu menambah makna perjalanan ini. Kami bukan sekadar menikmati keindahan alam, tapi turut menjadi bagian dari bangkitnya ekonomi masyarakat yang selama ini tertahan.
Saat matahari mulai merunduk, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Banana Kres dan Pasar Tawangmangu untuk berburu oleh-oleh, sebelum akhirnya menikmati makan malam bersama dan kembali melaksanakan ibadah. Pukul 21.00, meninggalkan Karanganyar dan kembali ke Yogyakarta dengan hati yang penuh, lelah yang berubah menjadi kekuatan.
Terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Kepala Sekolah dan Tim SDM Sekolah yang telah merancang perjalanan indah ini. Pengalaman hari ini bukan sekadar kenangan manis, melainkan penyegaran jiwa yang kami butuhkan.