Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Pada Sabtu cerah, 1 Agustus 2026, seluruh guru dan karyawan SMK Kesehatan Binatama meninggalkan meja kerja dan ruang kelas, melangkah (dengan naik bus) menyusuri bukit, hutan, dan jalan berliku. Bukan sekadar wisata, ini adalah perjalanan menyegarkan hati, memadukan tawa lepas, uji nyali, dan melihat langsung denyut nadi kehidupan masyarakat yang kembali bangkit. Sebuah awal semester yang penuh warna, persaudaraan, dan harapan baru.
Pagi buta, sejak pukul 05.30, seluruh peserta sudah berkumpul dengan semangat yang tak kalah hangat dari matahari yang baru terbit. Setelah presensi dan persiapan singkat, rombongan bergerak menuju Bukit Skipan, Tawangmangu. Udara segar pegunungan langsung memeluk setiap napas, seolah menyapu lelah rutinitas yang selama ini terjalin.
Keseruan baru dimulai saat tiba di kawasan tersebut. Di Taman Skipan, tawa riuh pecah saat mencoba permainan bom-bom car yang memacu adrenalin sekaligus memancing kegembiraan ala anak-anak di dalam diri kami.
Tak hanya itu, jelajah Gua Hantu membawa kami pada momen saling berpegangan tangan, mengatasi rasa takut bersama, sebuah pengingat bahwa dalam menghadapi hal yang belum diketahui, persaudaraan adalah kekuatan terbesar. Semua momen itu menjadi tanda awal: hari ini bukan tentang jabatan atau tugas, melainkan tentang kita sebagai sesama manusia yang saling menguatkan.
Perjalanan berlanjut menuju Forest Green Park, atau yang lebih akrab disebut Lawu Green Forest. Di sini, diawali dengan makan siang bersama, kemudian dilanjutkan dengan sesi outbound yang mengubah suasana menjadi penuh canda tanpa batas. Para instruktur dengan cerdas meramu kegiatan yang membebaskan kami dari segala beban pikiran.
Aturan mainnya sederhana: siapa yang kurang teliti mendengarkan instruksi ("kepala sekolah berkata"), siap-siap menerima "hadiah" bedak basah yang melumuri wajah. Dan saat hukuman itu datang, bukan rasa malu yang muncul, melainkan tawa yang meledak-ledak.
Teman-teman segera mengerumuni, membawa bedak di tangan, sehingga wajah yang tadinya rapi kini berwarna-warni. Puncak keseruan tiba saat instruktur meminta kami merapatkan perut ke tanah, merayap seperti kura-kura bersama-sama.
Tak ada yang terhindar, tak ada yang merasa lebih tinggi. Semua sama rata, merayap di atas tanah yang memberi kehidupan, merasakan betapa indahnya menjadi sederhana dan saling menyayangi. Di sela-sela itu, kami juga sempat beristirahat, menikmati santap siang, dan melaksanakan ibadah, mengisi perut dan jiwa dengan kebaikan alam.
Yang menarik, semua peserta, termasuk para instruktur, mendapatkan hadiah yang sama: wajah yang dilumuri bedak basah yang hampir menyaingi manusia silver di perempatan lampu merah.
(video dibuat oleh tim tour guide)
Siang berganti sore, rombongan melaju menuju Sky Hills Kemuning. Di sana, jembatan kaca yang menjulang tinggi menanti untuk menguji keberanian masing-masing. Setiap langkah di atas permukaan bening itu membawa rasa campur aduk: penasaran, takut, namun juga takjub.
Di sela-sela kekhawatiran akan kekuatan dan keamanan jembatan itu, mata kami dimanjakan oleh hamparan perkebunan teh yang hijau membentang, berpadu dengan keindahan pegunungan yang berkelok.
Angin sepoi-sepoi seolah mengajak kami melangkah maju, meyakinkan kami bahwa apa yang tampak menakutkan sering kali menyimpan keindahan luar biasa jika kita berani menjalaninya.
Belum selesai rasa takjub di jembatan kaca, puncak keseruan sesungguhnya baru dimulai. Sebelas jeep terbuka sudah bersiap membawa kami menembus jalan berbatu, berlumpur, hingga menyusuri aliran sungai. Setiap kali kendaraan mencebur ke dalam air yang deras, percikan segar menyapa seluruh penumpang, disambut sorak-sorai yang tak henti.
Di sela gemuruh mesin, saya sempat berbincang dengan salah satu pengemudi jeep. "Senang sekali rasanya melihat kembali banyak orang berdatangan ke sini," ujarnya dengan wajah berseri.
"Dulu saat pandemi, jalanan ini sepi sekali. Kami tak punya penghasilan. Kini, setiap akhir pekan dan hari libur, rombongan wisata seperti Bapak Ibu datang berkunjung. Rezeki mulai mengalir kembali, warung makan, penjual oleh-oleh, kami para pengemudi, semua mulai bernapas lega. Wisata ini bukan sekadar hiburan, tapi darah bagi kehidupan kami." Ujarnya setelah mengantar kami ke terminal bus sembari mengakhiri perjalanan susur sungai dan lumpur yang menegangkan dan penuh kegembiraan.
Kata-kata sederhana itu menambah makna perjalanan ini. Kami bukan sekadar menikmati keindahan alam, tapi turut menjadi bagian dari bangkitnya ekonomi masyarakat yang selama ini tertahan.
Saat matahari mulai merunduk, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Banana Kres dan Pasar Tawangmangu untuk berburu oleh-oleh, sebelum akhirnya menikmati makan malam bersama dan kembali melaksanakan ibadah. Pukul 21.00, meninggalkan Karanganyar dan kembali ke Yogyakarta dengan hati yang penuh, lelah yang berubah menjadi kekuatan.
Terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Kepala Sekolah dan Tim SDM Sekolah yang telah merancang perjalanan indah ini. Pengalaman hari ini bukan sekadar kenangan manis, melainkan penyegaran jiwa yang kami butuhkan.
Kembali ke ruang kelas dan meja tugas, kami membawa semangat baru: persaudaraan yang makin erat, keyakinan untuk melangkah berani, dan harapan ba