Alfred Benediktus
Alfred Benediktus Editor

Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Di Kaki Lawu: Antara Patung Firaun, Rezeki yang Mengalir, dan...

3 Agustus 2026   18:29 Diperbarui: 3 Agustus 2026   18:29 48 1 1

Beberapa lokasi yang kerap jadi pilihan antara lain area sekitar Lawu Green Forest, kawasan wisata Sarangan, hingga tempat rekreasi di lereng Karanganyar yang menyuguhkan pemandangan lembah.

Di sana, keluarga bisa berkumpul sambil menikmati udara sejuk, menyantap masakan khas pegunungan, anak-anak bisa bermain dengan aman, dan obrolan pun terasa lebih hangat tanpa gangguan hiruk-pikuk kota.

Hal ini membuktikan bahwa geliat ekonomi di sini juga tumbuh menjawab kebutuhan sosial masyarakat, menjadikan alam Lawu bukan sekadar tempat dikunjungi, melainkan ruang yang menyatukan kebersamaan.

Antara Kemegahan Tampak dan Kesejahteraan yang Tertunda

Namun, di tengah riuhnya pembangunan fasilitas wisata dan proyek pembangunan fisik lainnya, ada realita yang kerap terabaikan. Kita sering mendengar alasan "keterbatasan anggaran" ketika usulan kenaikan gaji guru disampaikan. 

Padahal, guru adalah pilar yang mencerdaskan generasi penerus, termasuk mereka yang tinggal dan mengajar di pelosok lereng Lawu ini.

Di saat yang sama, kita melihat pembangunan gedung sekolah baru kerap terjadi tak jauh dari bangunan sekolah yang masih layak pakai. 

Proyek yang tumpang tindih ini seolah lebih diutamakan daripada perbaikan nasib tenaga pendidik yang setiap hari mengabdi. 

Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan harus selalu dinilai dari kemegahan fisik yang terlihat mata, sementara kesejahteraan mereka yang menggerakkan proses pendidikan justru dikesampingkan?

Pertanyaan ini bukan bermaksud menolak pembangunan, melainkan mengajak melihat ulang prioritas kita. Apakah anggaran negara sudah dialokasikan dengan tepat sasaran, atau hanya berputar pada proyek-proyek yang memberikan kesan instan?

Penutup: Lawu Sebagai Cermin Keadilan

Patung ala Mesir di gerbang Lawu Green Forest mungkin tetap menjadi misteri selera desain atau ide pengelola. Namun yang jauh lebih penting untuk dijawab adalah misteri di balik kebijakan yang menyangkut hajat hidup rakyat.

Gunung Lawu akan tetap berdiri kokoh, menyuguhkan keindahan yang tak berubah. Namun kemajuan sejati di kawasan ini bukan hanya diukur dari banyaknya wahana wisata baru atau gaya arsitektur yang diusung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3