Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Saat menyusuri jalan berkelok dari arah Karanganyar menuju perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, mata dimanjakan hamparan perkebunan sayur dan teh yang membentang luas. Udara sejuk menyapa, seolah tak peduli dengan hiruk-pikuk nilai tukar dolar yang kerap mencekik harga kebutuhan, maupun kebijakan pemerintah yang kadang terasa simpang siur. Semakin ke timur, menuju wilayah Magetan, deretan pohon pinus yang menjulang rapi mulai mendominasi pemandangan. Hingga tiba di sebuah gerbang yang tak terduga: Lawu Green Forest, dijaga patung-patung ala Mesir Kuno di depan gerbang menuju hutan tropis khas Jawa.
Pertanyaan spontan pun muncul dalam hati: mengapa bukan gapura berukir Jawa, pendopo tradisional, atau ornamen yang lebih dekat dengan akar budaya tanah air? Pertanyaan itu tak saya tujukan pada petugas atau dinas terkait, melainkan sekadar renungan sunyi. Namun di balik keunikan itu, Gunung Lawu tetaplah nadi kehidupan yang tak pernah berhenti berdetak, meski realitas di sekitarnya kerap menyisakan tanda tanya yang tak kalah besar.
Di sepanjang lereng Lawu, masyarakat menemukan jalannya sendiri untuk bertahan dan berkembang. Dari sisi Karanganyar, petani terus merawat ladang sayur dan kebun teh; hasil panennya mengalir memenuhi pasar-pasar di Yogyakarta, Surakarta, hingga Surabaya. Biaya pupuk dan transportasi mungkin semakin mahal, namun semangat bertani tak pernah padam.
Berpindah ke wilayah Magetan dan sekitarnya, potensi alam diubah menjadi beragam destinasi wisata yang makin diminati: mulai dari hutan pinus untuk bersantai, taman bunga, tempat berkemah, hingga wahana rekreasi keluarga seperti Lawu Green Forest. Tak sedikit warga yang kini memiliki mata pencaharian baru: pengelola tempat wisata, pedagang kuliner khas, penyewaan perlengkapan, hingga pemandu wisata.
Di sini terlihat jelas: ekonomi rakyat tetap berputar, berkat kreativitas dan kerja keras masyarakat, seolah tak terlalu bergantung pada angka-angka makroekonomi yang seringkali terasa jauh dari jangkauan mereka. Rezeki mengalir dari keindahan alam yang dijaga, dan usaha yang tak kenal lelah.

Bukan hanya untuk wisata harian atau pendakian, kawasan Lawu kini juga menjadi tujuan favorit acara kumpul keluarga besar seperti arisan.
Berbagai tempat kini menyediakan fasilitas lengkap: mulai dari pendopo terbuka yang teduh di tengah hutan pinus, gazebo berukuran cukup besar, hingga area makan bersama yang dilengkapi pemandangan hamparan hijau.
Beberapa lokasi yang kerap jadi pilihan antara lain area sekitar Lawu Green Forest, kawasan wisata Sarangan, hingga tempat rekreasi di lereng Karanganyar yang menyuguhkan pemandangan lembah.
Di sana, keluarga bisa berkumpul sambil menikmati udara sejuk, menyantap masakan khas pegunungan, anak-anak bisa bermain dengan aman, dan obrolan pun terasa lebih hangat tanpa gangguan hiruk-pikuk kota.
Hal ini membuktikan bahwa geliat ekonomi di sini juga tumbuh menjawab kebutuhan sosial masyarakat, menjadikan alam Lawu bukan sekadar tempat dikunjungi, melainkan ruang yang menyatukan kebersamaan.
Namun, di tengah riuhnya pembangunan fasilitas wisata dan proyek pembangunan fisik lainnya, ada realita yang kerap terabaikan. Kita sering mendengar alasan "keterbatasan anggaran" ketika usulan kenaikan gaji guru disampaikan.
Padahal, guru adalah pilar yang mencerdaskan generasi penerus, termasuk mereka yang tinggal dan mengajar di pelosok lereng Lawu ini.
Di saat yang sama, kita melihat pembangunan gedung sekolah baru kerap terjadi tak jauh dari bangunan sekolah yang masih layak pakai.
Proyek yang tumpang tindih ini seolah lebih diutamakan daripada perbaikan nasib tenaga pendidik yang setiap hari mengabdi.
Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan harus selalu dinilai dari kemegahan fisik yang terlihat mata, sementara kesejahteraan mereka yang menggerakkan proses pendidikan justru dikesampingkan?
Pertanyaan ini bukan bermaksud menolak pembangunan, melainkan mengajak melihat ulang prioritas kita. Apakah anggaran negara sudah dialokasikan dengan tepat sasaran, atau hanya berputar pada proyek-proyek yang memberikan kesan instan?
Patung ala Mesir di gerbang Lawu Green Forest mungkin tetap menjadi misteri selera desain atau ide pengelola. Namun yang jauh lebih penting untuk dijawab adalah misteri di balik kebijakan yang menyangkut hajat hidup rakyat.
Gunung Lawu akan tetap berdiri kokoh, menyuguhkan keindahan yang tak berubah. Namun kemajuan sejati di kawasan ini bukan hanya diukur dari banyaknya wahana wisata baru atau gaya arsitektur yang diusung.
Kemajuan itu terwujud ketika kemegahan yang ada beriringan dengan kesejahteraan petani, guru, pengelola tempat arisan, dan seluruh warga yang menjaga pesona Lawu.
Semoga keindahan Gunung Lawu bukan sekadar tempat pelarian sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan, melainkan menjadi cermin yang mengajak kita semua (terutama para pemangku kebijakan) untuk lebih adil, bijaksana, dan berpihak pada yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang sejati adalah yang merata dan menyentuh hati rakyat.