Namun di saat yang sama, kita juga perlu melonggarkan genggaman dan menyisakan ruang hangat di hati untuk memeluk erat apa pun kejutan yang dihadirkan semesta lewat senyuman Amorfati.
Kita harus percaya bahwa ada kekuatan di luar diri kita yang turut bekerja. Bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan itu tidak apa-apa.
Kitabisa, bukti nyata dari keseimbangan ini. Ada perencanaan bisnis yang matang di balik platform ini. Tapi ada juga keajaiban dari jutaan orang yang percaya pada kebaikan.
Ada kerja keras tim di balik layar. Tapi ada juga campur tangan takdir yang membuat semuanya berjalan. Jika salah satu dari elemen itu hilang, Kitabisa mungkin tidak akan pernah tumbuh menjadi rumah bagi jutaan kebaikan seperti yang kita kenal hari ini.
Lewat setiap jengkal perjalanan Kitabisa, Timmy seolah ingin mengingatkan kita dengan lembut: membangun bisnis social enterprise itu urusannya jauh lebih mendalam daripada sekadar merancang teknologi atau platform yang terlihat keren.
Di celah sempit antara rencana manusia dan takdir semesta, selalu ada ruang bagi keajaiban untuk bekerja. Dan di situlah letak keindahan serta seni menjalani hidup yang sesungguhnya.
Persis seperti mengemudikan kendaraan membelah pekatnya kabut, kita tidak pernah dituntut untuk menguasai seluruh bentangan jalan di depannya. Cukup miliki keteguhan jalur yang terbentang saja, lalu teruslah bergerak maju dengan penuh kehati-hatian yang presisi.
Sebab pada akhirnya, esensi perjalanan ini bukanlah tentang sejauh mana mata kita mampu memandang, melainkan tentang seberapa kokoh iman kita meyakini bahwa setiap detak kebaikan yang kita tebar akan selalu menemukan alamat takdirnya sendiri.