Estafet perjuangan Timmy dalam merajut Kitabisa sejatinya adalah manifesto tentang bagaimana kegelisahan tulus seorang anak muda, saat dirawat dengan konsistensi tanpa batas, mampu bermutasi menjadi gelombang gerakan kemanusiaan yang luar biasa masif.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Kitabisa sinonim dari gerakan peduli sesama. Platform penggalangan dana sosial daring terbesar di tanah air ini telah mengubah cara kita menolong orang lain.
Di balik layar platform yang masif ini, ada sosok M. Alfatih Timur—atau yang lebih akrab disapa Timmy. Bertindak sebagai nakhoda sekaligus konseptor utama, ia berhasil merelokasi nilai luhur gotong royong dari ranah sosiologis masyarakat ke dalam ekosistem digital, mengubahnya menjadi sebuah gerakan nyata yang menggalang solidaritas jutaan tangan baik umat.
Ada mimpi yang lahir dari ruang-ruang kelas kampus. Ada keyakinan bahwa kebaikan, jika dikelola dengan baik, bisa mengubah banyak nyawa. Ada sebuah keyakinan kuno bahwa hidup kita sesungguhnya adalah titik temu—sebuah persimpangan manis antara peluh usaha yang kita perjuangkan dan takdir yang sudah digariskan oleh tangan Tuhan.
Startup muda yang bertalenta Bos Kopi: Cerita James Pranato Startup Muda Kopi Kenangan
Yuk, kita selami lebih dalam bagaimana kisah Timmy dalam merajut jembatan kebaikan di tengah riuhnya era digital saat ini.
Awal Mula: Ide dari Kampus
Benih-benih Kitabisa sebenarnya sudah mulai tertanam sejak tahun 2013. Didasari niat tulus untuk membantu sesama, untuk mendirikan sebuah rumah singgah (donasi)—sebuah wadah yang tidak hanya aman, tetapi juga jujur dan transparan.
Di titik krusial inilah, hadir sosok Profesor Rhenald Kasali. Pakar manajemen terkemuka itu hadir bukan sekadar sebagai dosen, melainkan mentor yang menemani ruang-ruang diskusi Timmy.
Dari jabat erat pemikiran keduanya, perlahan wujud sebuah platform penggalangan dana yang bersih dan terpercaya mulai menemui bentuknya. Timmy yakin, sentuhan teknologi bisa menjadi jawaban atas keraguan klasik masyarakat. Lewat digitalisasi, niat baik tidak perlu lagi disekat oleh jarak, apalagi dipotong oleh waktu. Dan dari sanalah, Kitabisa akhirnya resmi dilahirkan untuk dunia.