Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video

Doaku di Tengah Malam

9 Juli 2026   06:00 Diperbarui: 9 Juli 2026   05:21 158 15 2

Gambar oleh jackdanlere dari Pixabay
Gambar oleh jackdanlere dari Pixabay


Doaku di Tengah Malam



Hampir setiap bulan, aku terbangun di tengah malam. Bukan karena suara petir, bukan pula karena bunyi jam weker. Entah mengapa, selalu ada mimpi yang membuat mataku terbuka tepat ketika malam sedang sunyi.
Aku duduk di tepi ranjang. Kulirik jam dinding. Pukul 00.37.
Dari atas genting rumah terdengar suara burung srigunting---oleh sebagian warga kampung sering disebut burung sabak---bercuit berulang-ulang. Suaranya memecah kesunyian malam.
Sejak kecil aku mendengar berbagai penafsiran tentang malam dan suara burung itu.

Pertama, kata kakekku, suara burung di atas rumah bisa menjadi pertanda ada pencuri yang sedang mengintai. Karena itu, beliau selalu bangun, memeriksa pintu, jendela, dan halaman rumah.

Kedua, kata beberapa tetangga, suara itu menjadi tanda akan ada orang yang meninggal dunia. Setiap kali mendengarnya, mereka diliputi rasa cemas, menunggu kabar buruk yang entah benar atau tidak.

Ketiga, ibuku mempunyai keyakinan yang berbeda. Baginya, jika terbangun di tengah malam tanpa sebab, itu adalah kesempatan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. "Di saat dunia terlelap, engkau bisa berbicara lebih tenang kepada Tuhan," katanya.
Aku paling mengingat nasihat ibu itu.
Malam itu aku tidak keluar mencari asal suara burung. Aku tidak sibuk menebak-nebak siapa yang akan meninggal. Aku justru menyalakan lilin,  menyiapkan hati, lalu berdoa dalam keheningan.  Aku berlutut dan mulai berdoa.
Aku mendoakan ayah yang mulai renta.
Aku mendoakan ibu yang sering menyembunyikan rasa sakitnya.
Aku mendoakan murid-muridku agar bertumbuh menjadi anak-anak yang baik.
Aku mendoakan mereka yang sedang kehilangan pekerjaan.
Aku mendoakan mereka yang sedang berjuang melawan penyakit.
Tak terasa air mata menetes.

Keempat, aku kemudian menyadari bahwa bangun di tengah malam juga bisa menjadi saat untuk melakukan introspeksi. Ketika suasana sunyi, kita lebih mudah mendengar suara hati sendiri. Kesalahan-kesalahan yang siang tadi terasa biasa, malam itu tampak begitu jelas.

Kelima, aku percaya Tuhan kadang membangunkan seseorang bukan untuk menakut-nakuti dengan pertanda, melainkan untuk mengingatkan bahwa masih ada kesempatan memperbaiki hidup, mengampuni, mengasihi, dan berharap.
Esok paginya, kampungku tetap seperti biasa.
Tidak ada pencuri.
Tidak ada kabar duka.
Tidak ada kejadian aneh.
Yang berubah justru diriku. Hatiku terasa lebih damai setelah mencurahkan segala beban kepada Tuhan.

Kini, setiap kali mimpi membangunkanku di tengah malam dan suara burung terdengar dari atas rumah, aku tidak lagi sibuk mencari arti dari suara itu.
Aku memilih melipat tangan, menundukkan kepala, lalu berdoa.
Sebab boleh jadi, tengah malam bukan tentang pertanda buruk.
Melainkan tentang undangan Tuhan agar manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali berbicara dengan-Nya.

Kepercayaan dan mitos boleh hidup dalam masyarakat sebagai bagian dari budaya. Namun, yang terpenting adalah menggunakan setiap kesempatan, termasuk saat terbangun di tengah malam, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, berintrospeksi, dan mendoakan sesama.

Tangerang, 9 Juli 2026