Ari Kurniawan
Ari Kurniawan Mahasiswa

Ari merupakan pemuda dengan semangat belajar yang tinggi, pekerja keras, memiliki rasa ingin tahu yang besar, serta ketertarikan mendalam terhadap pendidikan dan keilmuan, khususnya dalam bidang seni, desain, dan budaya. Memiliki pengalaman selama enam tahun sebagai freelance pada bidang desain grafis, ilustrasi, fotografi, videografi, dan seni lukis, serta sebagai Penulis Ilmiah yang aktif di institusi pendidikan dalam mendukung pelayanan, perencanaan, dan perwujudan visi dan misi lembaga.

Selanjutnya

Tutup

Video

Dari Koreografi ke Layar Dunia

6 Oktober 2026   19:23 Diperbarui: 6 Oktober 2026   19:23 95 0 0

Sumber: Tim Dokumentasi FSRD UNS
Sumber: Tim Dokumentasi FSRD UNS

Perjalanan Prof. Dr. Deny Tri Ardianto Membawa Film Tari Indonesia ke Panggung Internasional

SURAKARTA - Tradisi Jawa menemukan ruang baru melalui karya film tari Prof. Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., Dipl. Art. Berangkat dari pengalaman sebagai penari, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) ini mempertemukan gerak tubuh dengan kamera, ruang, cahaya, musik, dan penyuntingan untuk menjangkau penonton lintas negara.
Perjalanan tersebut mengantarkannya pada pengukuhan sebagai Guru Besar bidang Penciptaan Seni Film. Praktik berkarya, penelitian, dan pendidikan menjadi bagian yang saling menguatkan dalam upayanya mengembangkan film tari Indonesia.
Bagi Deny, film tari melampaui dokumentasi pertunjukan. Kamera turut membentuk koreografi melalui sudut pandang, pergerakan, dan detail tubuh. Penyuntingan kemudian merangkai ruang dan waktu menjadi pengalaman visual yang memiliki ritmenya sendiri.


Tradisi sebagai sumber penciptaan
Pendekatan itu terlihat dalam film Risang Tetuka (2013), adaptasi lakon Gathutkaca Lahir dari Wayang Orang Sriwedari. Cerita tradisional ditafsirkan kembali melalui perpaduan tari, gambar, dan suara, membuka jalan bagi warisan budaya untuk berkomunikasi dengan generasi baru.
Eksplorasi berlanjut lewat Kalap! (2017), yang mengangkat kisah Arya Penangsang. Film ini diputar di World Cinema Amsterdam dan tampil dalam pameran internasional di Bangkok pada 2019, lalu hadir di Indonesia Bertutur pada 2024.
Karya Being a Prosecutor atau Dadi Jeksa bersumber dari Serat Jayengbaya karya R.Ng. Ranggawarsita. Bersama penari Otniel Tasman, Deny mengolah persoalan hukum, keadilan, dan kekuasaan melalui bahasa tubuh. Film tersebut masuk official selection American Dance Festival's Movies by Movers 2020 di Amerika Serikat.
Pada masa pandemi, Morning Coffee menunjukkan bahwa keterbatasan produksi tetap dapat melahirkan karya. Film ini meraih Winner of Audience Favorite dalam Versatility Dance Fest Virtual -- The Quarantine Room di Amerika Serikat pada Juni 2020.
Pada masa pandemi, Morning Coffee menunjukkan bahwa keterbatasan produksi tetap dapat melahirkan karya. Film ini meraih Winner of Audience Favorite dalam Versatility Dance Fest Virtual -- The Quarantine Room di Amerika Serikat pada Juni 2020.


Desire mendapat penghargaan Film Pilihan Penonton
Melalui Desire, Deny kembali berkolaborasi dengan Otniel Tasman untuk mengeksplorasi tubuh, identitas, dan spiritualitas. Tradisi Lengger Banyumas menjadi pintu masuk untuk membaca hubungan maskulinitas dan feminitas melalui gagasan nyawiji, atau penyatuan dua entitas.
Pada 2026, Desire tampil dalam The 54th Dance on Camera Festival di New York dan On Music -- Dance & Music Film Festival di Warsawa. Film ini juga diputar dalam AADF 2026 Dance Film Screening di Museum of Contemporary Art San Diego, Amerika Serikat, pada 30 Agustus 2026, dan meraih Audience Choice Award.
Apresiasi penonton tersebut memperlihatkan peluang karya berakar budaya Indonesia untuk diterima dalam ruang internasional. Bagi FSRD UNS, perjalanan Deny memperkuat hubungan penciptaan seni dengan pengembangan pengetahuan dan komunikasi budaya.
Melalui film tari, tradisi dapat terus ditafsirkan dan dikenalkan kepada publik yang lebih luas. Dari koreografi ke layar dunia, Deny menghadirkan kebudayaan Indonesia sebagai sumber penciptaan yang hidup dan relevan.